Minggu, 11 Mei 2014
TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF
TEORI PENGEMBANGAN KOGNITIF PIAGET
TEORI PENGEMBANGAN KOGNITIF PIAGET
A. Pendahuluan
Teori perkembangan kognitif Jean Piaget secara kuat mempengaruhi cara kita melihat bagaimana individu belajar dan proses individu membangun pengetahuan mereka sendiri. Hal ini terutama berlaku dalam disiplin ilmu matematika. Konsep matematika dibangun satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan teori Jean Piaget menganggap langkah-langkah melalui proses yang terjadi.
Setiap tahap perkembangan kognisi Piaget akan digambarkan dan ditandai, tahap perkembangan matematika dapat dijadikan dasar yang kokoh untuk pembelajaran matematika di masa depan. Kesimpulannya akan dapat mengahsilkan implikasi umum mengenai pengetahuan tentang tahap perkembangan untuk instruksi matematika.
Asumsi yang mendasari yaitu Piaget percaya bahwa perkembangan anak terjadi melalui transformasi terus-menerus proses pemikiran. Suatu tahap perkembangan terdiri dari periode bulan atau tahun pada saat pengembangan tertentu mengambil tempat. Piaget percaya bahwa pengembangan anak-anak yang tetap dan secara bertahap terus menerus sepanjang tahapan yang bervariasi dan pengalaman akan membentuk fondasi untuk gerakan selanjutnya. Semua orang melewati setiap tahap sebelum memulai satu tahapan berikutnya; tidak ada yang melompat setiap tahap.
B. Tahapan Pengembangan Kognitif
Piaget telah mengidentifikasi empat tahap utama pembangunan: sensorimotor, praoperasional, beton operasional, dan formal operasional.
1. Tahap sensorimotor
Tahap pertama pengembangan yang diidentifikasi Piaget adalah tahap sensorimotor. Ini umumnya terjadi antara kelahiran sampai dua tahun. Pada titik ini, anak-anak belajar menggunakan pancaindra mereka dan perlu pengalaman nyata untuk memahami konsep dan ide-ide. Tahap ini ditandai dengan perolehan progresif keabadian dalam objek anak menjadi mampu untuk menemukan benda setelah diganti, bahkan jika benda-benda telah dibawa keluar sudut pandangnya. Sebagai contoh, percobaan Piaget pada tahap ini yaitu menyembunyikan objek dibawah bantal untuk melihat apakah bayi dapat menemukan objek.
Karakteristik tambahan anak-anak ini tahap adalah kemampuan mereka untuk menghubungkan nomor ke objek (Piaget, 1977) (misalnya, satu anjing, dua kucing, tiga babi, empat kudanil). Untuk mengembangkan kemampuan matematika anak ditahap ini, kemampuan anak mungkin akan meningkat jika diberikan banyak kesempatan untuk bertindak terhadap lingkungan yang tidak terbatas (namun aman) sebagai cara untuk mulai membangun konsep. Bukti menunjukkan bahwa anak-anak pada tahap sensorimotor memiliki beberapa pemahaman tentang konsep angka dan menghitung. Pendidik dalam tahap pengembangan anak harus meletakkan pondasi matematika yang kuat dengan menyediakan kegiatan yang menggabungkan menghitung dan dengan demikian meningkatkan pengembangan konseptual anak-anak mengenai angka. Misalnya, guru dan orangtua dapat membantu anak-anak menghitung jari-jari mereka, mainan, dan permen. Kegiatan lain yang bisa meningkatkan perkembangan matematis anak-anak pada tahap ini yaitu menghubungkan matematika dan bahasa. Ada banyak buku anak-anak yang berisi matematika. Karena anak-anak pada tahap ini dapat menghubungkan angka ke objek, didapat manfaat dari melihat gambar benda dan angka mereka masing-masing secara bersamaan. Seiring dengan manfaat matematika, buku anak-anak dapat berkontribusi untuk pengembangan keterampilan membaca dan pemahaman.
2. Tahap preoperasional
Tahap kedua perkembangan kognitif diidentifikasi oleh Jean Piaget adalah tahap preoperasional, selama 2-7 tua tahun. Selama periode ini, anak-anak dapat melakukan satu langkah mengenai masalah logika, mengembangkan bahasa, operasi egosentris dan terbatas pada logika. Pengembangan anak-anak terus berlanjut, dan tahap ini menandai awal memecahkan masalah yang lebih matematis berdasarkan seperti penambahan dan pengurangan.
Persepsi anak dalam tahap pengembangan umumnya terbatas pada satu aspek atau dimensi objek dengan mengorbankan aspek lain. Mengajar siswa dalam tahap pengembangan ini harus menggunakan kuisioner yang efektif tentang karakteristik objek. Misalnya, ketika siswa menyelidiki bentuk-bentuk geometris, guru bisa meminta siswa untuk berkelompok sesuai dengan bentuk dengan karakteristik yang sama. Terlibat dalam diskusi atau interaksi dengan anak-anak dapat menimbulkan penemuan anak-anak dari berbagai cara untuk kelompok suatu objek, sehingga membantu anak-anak berpikir tentang kuantitas dalam cara baru.
3. Tahap Operasional Konkret
Tahap berikutnya pengembangan kognitif Piaget adalah tahap operasional konkret yaitu anak antara usia 7-11 tahun. Seorang anak akan mampu berpikir logis dan mulai mengelompokkan berdasarkan beberapa ciri dan karakteristik daripada hanya berfokus pada representasi visual. Secara matematis, tahap ini merupakan tahap pengembangan baru yang luar biasa untuk anak. Karena anak sekarang dapat mengklasifikasikan berdasarkan beberapa fitur. Sementara anak-anak sebelumnya terbatas sudut pandang mereka sendiri, mereka sekarang dapat mempertimbangkan sudut pandang lain. Mereka juga dapat mulai memahami ide-ide dan klasifikasi lebih menyeluruh dan mengembangkan cara menyajikan solusi dalam berbagai cara. Dalam rangka mengembangkan kemampuan anak pada menyajikan beberapa solusi, diskusi di kelas bisa sangat membantu.
Tahap ketiga adalah ditandai dengan pengembangan kognitif yang luar biasa, yaitu ketika pengembangan dan penguasaan keterampilan dasar anak-anak mengenai bahasa mempercepat secara signifikan. Pengalaman dan berbagai cara dari solusi matematika dapat cara membina pengembangan tahap kognitif. Pentingnya kegiatan ini memberikan siswa jalan untuk membuat gagasan abstrak, yang memungkinkan mereka untuk memperoleh ide-ide matematika dan konsep sebagai alat yang berguna untuk memecahkan masalah.
4. Tahap Operasi Formal
Tahap terakhir pengembangan kognitif Piaget adalah tahap operasional formal, yaitu anak-anak yang berusia antara 11-16 tahun dan terus sepanjang masa dewasa. Ini menandai perubahan yang berbeda pada proses berpikir anak, berpikir lebih logis dan abstrak. Anak pada tahap ini mampu membentuk hipotesis dan konsekuensi yang mungkin menyusun kesimpulan, memungkinkan anak untuk membangun matematika sendiri. Selain itu, biasanya mulai berkembang pola pikir abstrak dimana penalaran menggunakan simbol-simbol murni tanpa perlu gambaran data. Misalnya, peserta didik operasional formal dapat memecahkan x + 2x = 9 tanpa harus mengacu pada situasi konkret yang disajikan oleh guru, seperti, "Toni makan permen dengan jumlah tertentu. Kakaknya makan dua kali lebih banyak. Mereka makan bersama-sama sembilan permen. Berapa banyak permen yang dimakan Tony?"
Keterampilan penalaran dalam tahap ini mengacu pada proses mental yang terlibat dalam generalisasi dan evaluasi argumen yang meliputi klarifikasi, inferensi, evaluasi, dan aplikasi. Klarifikasi mengharuskan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis unsur-unsur masalah, yang memungkinkan mereka untuk menguraikan informasi yang dibutuhkan dalam memecahkan suatu masalah. Inferensia mengharuskan untuk membuat kesimpulan induktif dan deduktif dalam matematika. Evaluasi mengharuskan kriteria menilai kecukupan solusi masalah. Aplikasi melibatkan siswa menghubungkan konsep-konsep matematika ke kehidupan nyata.
DAFTAR PUSTAKA
CARA MEMOTIVASI SISWA
MOTIVASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
A. Pendahuluan
Keberhasilan dalam pembelajaran matematika tidak jauh dari guru berperan sebagai informator, komunikator, dan fasilitator. Metode mengajar digunakan oleh guru dapat mempengaruhi interaksi antara guru, siswa, dan prestasi belajar. Sampai sekarang kita masih mendengar banyak siswa yang mengeluh bahwa matematika dipandang sebagai mata pelajaran yang menakutkan, tidak menarik, dan sulit untuk dilakukan, juga tidak berhubungan banyak untuk kehidupan sehari-hari.
Memotivasi belajar penting artinya dalam proses pembelajaran karena fungsinya mendorong, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar. Motivasi adalah prasyarat dalam pembelajaran, tanpa motivasi hasil belajar yang dicapai tidak akan optimal dan motivasi sendiri merupakan dorongan yang timbul dari dalam diri sendiri atau ditimbulkan oleh lingkungan sekitar. Motivasi yang ada pada seseorang akan mewujudkan suatu perilaku yang diarahkan pada tujuan untuk mencapai sasaran. Keberhasilan belajar seseorang tidak lepas dari motivasi orang yang bersangkutan, oleh karena itu pada dasarnya motivasi belajar merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan belajar seseorang.
Penelitian Aida Suraya menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara usaha, percaya diri, dan motivasi secara keseluruhan dengan prestasi belajar secara keseluruhan. Demikian juga, korelasi positif yang signifikan antara usaha, percaya diri, khawatir, dan motivasi secara keseluruhan dengan prestasi rata-rata matematika siswa. Peningkatan motivasi belajar siswa sangat diperlukan mengingat bahwa prestasi belajar pada umumnya meningkat jika motivasi untuk belajar bertambah.
Motivasi dalam pembelajaran matematika pada umumnya masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya faktor pendorong dalam diri atau faktor luar yang mendukung motivasi. Kuat lemahnya motivasi seseorang akan mempengaruhi keberhasilan belajar, maka motivasi perlu diusahakan terutama yang berasal dari dalam diri maupun dorongan dari luar dengan cara memberi hadiah, penghargaan, pujian dan lain-lain. Dalam hal ini motivasi matematika penting karena akan menentukan strategi berfikir siswa yang tepat untuk memahami suatu materi.
B. Deskripsi Teori
Motivasi mengacu pada “kesediaan siswa, kebutuhan, keinginan dan keharusan dalam berpartisipasi, dan keberhasilan dalam proses pembelajaran”. Motivasi merupakan alasan individu untuk berperilaku dalam situasi tertentu. Motivasi biasanya didefinisikan sebagai kekuatan yang menjelaskan semangat, seleksi, arah, dan kelanjutan perilaku. Motivasi dapat memberikan alasan, insentif, antusiasme, atau kepentingan yang menyebabkan tindakan tertentu atau perilaku tertentu. Motivasi ada dalam kehidupan sehari-hari misalnya tindakan sederhana yaitu makan dimotivasi oleh rasa lapar. Demikian pula pendidikan yang dimotivasi oleh keinginan untuk pengetahuan. Secara komprehensif motivasi merupakan bagian dari tujuan seseorang, keyakinan seseorang mengenai apa yang dianggap penting.
Motivasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan energi yang ada pada siswa, sehingga akan berpengaruh dengan persoalan gejala psikis, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu. Semua itu didorong karena adanya tujuan, kebutuhan dan keinginan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka motivasi belajar merupakan keinginan atau dorongan pada diri seseorang baik secara sadar maupun tidak sadar untuk melakukan sesuatu perbuatan dengan tujuan tertentu. Dalam hal ini siswa perlu diberi perlakuan agar timbul motivasi belajar pada diri siswa yaitu diciptakan suatu kondisi tertentu sehingga siswa tergerakkan untuk belajar.
Banyak faktor yang menentukan apakah siswa termotivasi atau tidak termotivasi untuk belajar. Motivasi dapat timbul karena adanya perlakuan dari luar (eksternal) maupun adanya perlakuan dari dalam (internal). Faktor internal berasal dari dalam diri siswa sedangkan faktor eksternal berasal dari luar diri siswa misalnya dari lingkungan keluarga, masyarakat, guru, orangtua, teman, dll. Pandangan atau persepsi dari masyarakat terhadap matematika bahwa matematika itu sulit juga berdampak pada motivasi siswa terhadap pembelajaran matematika. Pengalaman pembelajaran matematika dari jenjang sebelumnya juga sangat berpengaruh terhadap motivasi siswa. Siswa tidak akan termotivasi jika pembelajaran matematika dalam jenjang sebelumnya tidak berjalan dengan baik. Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi dalam pembelajaran matematika yaitu :
1. Dukungan pembelajaran matematika oleh masyarakat terutama pada sistem, seperti dewan sekolah dan tata usaha (TU), orangtua dan wali, murid dan industri, pejabat terpilih, dan media.
2. Penciptaan suasana yang positif dalam pembelajaran matematika.
3. Peningkatan sikap siswa terhadap matematika.
4. Perhatian untuk keterampilan belajar.
5. Penetapan tinggi, lebih dari harapan.
6. Penyesuaian pekerjaan rumah untuk peningkatan efektivitas.
7. Pengenalan siswa harus menempatkan pendidikan sebelum pekerjaan part-time.
8. Dukungan lebih keterlibatan orangtua / keluarga yang didukung oleh guru dan sekolah.
9. Peningkatan bimbingan / penyuluhan siswa.
C. Pembahasan
Penelitian Middleton dan Spanias (1999) menunjukkan bahwa prestasi belajar matematika dipengaruhi kuat oleh motivasi. Motivasi memberikan kontribusi pada kemampuan untuk memecahkan masalah. Komponen motivasi belajar dalam jurnal Motivation To Learn (Connie Firth: 2010) adalah :
1) Rasa Ingin Tahu
Tugas seorang pendidik adalah untuk memelihara keingintahuan siswa dan menggunakan rasa ingin tahu sebagai motif untuk belajar. Salah satunya dengan memberikan siswa stimulus yang baru tapi tidak terlalu berbeda dari apa yang telah mereka ketahui sebelumnya. Menyajikan stimulus yang benar-benar asing dapat menimbulkan kecemasan daripada keingintahuan. Penyajian permasalahan matematika harus berbeda dari permasalahan sebelumnya tetapi dengan tingkatan yang bertahap. Keseimbangan antara kompleksitas dan kejelasan juga perlu diperhatikan. Keingintahuan adalah motif intrinsik untuk belajar, dan dengan demikian belajar tidak tergantung pada penghargaan yang diberikan oleh guru tetapi siswa sendiri tertarik belajar karena keingintahuan mereka. Hal ini sesuai teori kognitif Vygotsky yang menjelaskan bahwa pembelajaran harus berada pada Zone Proximate Development (ZPD) yaitu pembelajaran dimana siswa secara individu belum mampu mencapai tujuan pembelajaran akan tetapi dapat mencapai tujuan pembelajaran secara bersama-sama, misalnya dengan kerja kelompok, penelitian, dll.
2) Percaya Diri
Konsep percaya diri dapat diterapkan untuk belajar siswa. Siswa yang meragukan kemampuan mereka untuk sukses adalah siswa yang kurang termotivasi untuk belajar. Memberikan tugas secara berkelompok dan memberikan kesuksesan awal pada siswa adalah salah satu metode pengembangan kepercayaan diri siswa. Dalam pembelajaran matematika penting memberikan kesuksesan di awal pada siswa agar siswa termotivasi untuk melaksanakan pembelajaran selanjutnya. Apabila guru memberikan tugas atau pekerjaan rumah kepada siswa maka dengan urutan dari yang mudah, sedang dan susah sehingga siswa merasa bisa mengerjakan dan selanjutnya termotivasi mengerjakan tugas tersebut.
3) Sikap
Setiap pendidik pasti pernah menjumpai siswa yang mempunyai sikap kurang baik. Dalam pendidikan, pembelajaran memang tidak hanya dinilai melalui sikap tetapi sikap merupakan salah satu hal yang penting. Terdapat tiga pendekatan untuk mengubah sikap, yaitu memberikan pendekatan persuasif, memperkuat perilaku yang sesuai, dan mendorong perpaduan antara kognitif, afektif, dan komponen sikap. Sikap sangat berkaitan dengan motivasi karena ada korelasi yang positif diantara keduanya, apabila sikap belajar matematika siswa baik maka motivasi siswa juga tinggi demikian sebaliknya apabila motivasi belajar tinggi maka sikap siswa terhadap pembelajaran matematika juga baik.
4) Kebutuhan
Kebutuhan masing-masing siswa sangat bervariasi. Klasifikasi tingkatan kebutuhan manusia oleh Maslow. Ada lima tingkatan kebutuhan ini: (1) Fisiologis (tingkat bawah) (2) Keselamatan (tingkat rendah) (3) Cinta dan barang-barang (tingkat sedang) (4) Penghargaan dan penghormatan (tingkat tinggi) (5) Aktualisasi diri (tingkat tinggi). Motivasi siswa pada tingkatan rendah akan berbeda dengan motivasi siswa pada tingkatan tinggi. Siswa tidak akan siap untuk belajar jika kebutuhan tingkat rendah belum terpenuhi. Misalnya siswa yang ke sekolah masih dalam keadaan lapar maka mereka tidak mampu belajar karena kurang konsentrasi. Dengan kata lain kebutuhan tingkat rendah harus dipenuhi terlebih dahulu agar motivasi siswa ada.
5) Kompetensi
Kompetensi merupakan motif intrinsik untuk belajar yang terkait dengan kepercayaan diri siswa. Seseorang akan diberi penghargaan bila mereka melakukan pekerjaan dengan baik. Bagi beberapa siswa sukses dalam suatu hal belum tentu cukup. Guru tidak boleh hanya memberikan kondisi dimana siswa dapat berhasil tetapi juga memberikan kesempatan kepada siswa bahwa mereka mampu menyelesaikan sendiri tugas-tugas yang menantang. Seperti pepatah lama, mengajarkan seseorang untuk menangkap ikan akan lebih baik daripada memberikan ikan untuk lauk makan. Demikian pula belajar tanpa proses pemahaman pasti cepat hilang. Dukungan dari faktor luar, penghargaan dan dorongan penting bagi siswa untuk mencapai kompetensi. Pencapaian kompetensi itu sendiri menjadi faktor pendorong intrinsik.
6) Motivator Eksternal
Lingkungan yang aktif dapat meningkatkan partisipasi dan menghilangkan kebosanan siswa. Strategi pembelajaran yang diberikan harus fleksibel, kreatif dan terus-menerus diterapkan. Mengkondisikan lingkungan belajar, metode pengajaran dan bahan belajar yang bervariasi akan meningkatkan motivasi siswa. Kondisi eksternal yang mendukung kondisi internal meliputi; ketentuan untuk relevansi, pilihan, kontrol, tantangan, tanggung jawab, kompetensi, menyenangkan, dan dukungan dari orang lain dalam bentuk kepedulian, penghormatan dan bimbingan dalam pengembangan kemampuan.
Motivasi belajar bersifat pribadi dan berasal dari dalam individu, tetapi dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Tugas guru harus dapat mengkondisikan komponen-komponen motivasi pada pembelajaran. Dalam pembelajaran matematika motivasi dan sikap siswa sangatlah berkaitan, guru harus menyajikan matematika sebagai pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Selain itu pembelajaran matematika harus berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa dan mencakup materi yang relevan dengan kebutuhan dan minat siswa. Sikap guru terhadap matematika juga mempengaruhi sikap siswa, guru harus menyadari peran model pembelajaran yang baik untuk siswa. Sehingga sikap siswa dan motivasi siswa dalam pembelajaran mempunyai korelasi yang positif terhadap prestasi belajar matematika. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Monique Boekarts, hasil dari penelitian memberikan kesimpulan bahwa :
a. Siswa tidak termotivasi dalam belajar jika menghadapi kegagalan.
b. Siswa yang prestasi belajarnya kurang, ternyata dipengaruhi oleh motivasi dan penghargaan.
c. Siswa yang berorientasi pada penugasan belajar lebih dari siswa yang berorientasi secara individu.
d. Siswa mengharapkan penghargaan untuk setiap usahanya.
e. Siswa membutuhkan dorongan dan umpan balik tentang bagaimana mengembangkan motivasi.
f. Siswa membutuhkan dorongan dan umpan balik tentang bagaimana mengembangkan kemauan.
g. Siswa lebih berkomitmen untuk belajar jika tujuan pembelajaran sesuai dengan tujuan bersama.
Berdasarkan penelitian Monique Boekarts, guru memberikan pembelajaran matematika dimulai dengan apa yang diketahui siswa sehingga siswa cenderung termotivasi karena mereka merasa bisa terlebih dahulu. Dalam memberikan tugas atau pekerjaan rumah mulailah dari soal yang mudah, sedang, dan selanjutnya tugas hendaklah meningkatkan motivasi siswa misalnya pengerjaan secara berkelompok. Selain itu guru juga harus menghargai setiap usaha dari siswa sekecil apapun usaha siswa karena hal itu menunjukkan bahwa siswa memiliki motivasi terhadap matematika. Guru juga harus memberikan umpan balik atau feedback terhadap tugas, pekerjaan rumah, dan ulangan sehingga siswa mengetahui hasil usaha atau prestasinya serta dijadikan sebagai motivasi agar prestasi siswa lebih meningkat dari sebelumnya.
Menurut Houghton Mifflin dalam Psychology Applied To Teaching terdapat beberapa saran untuk memotivasi siswa saat pembelajaran yaitu :
1. Berikan perlakuan yang membantu siswa menempatkan diri mereka dan bekerja ke arah tujuan jangka panjang.
2. Pastikan bahwa siswa mengetahui apa yang mereka lakukan, bagaimana melanjutkan langkah, dan bagaimana menentukan kapan mereka telah mencapai tujuan pembelajaran.
3. Membuat segala kemungkinan agar memenuhi dapat meminimalkan kekurangan seperti aspek psikologi, kenyamanan, kesesuaian, dan penghargaan.
a) Mengakomodasi rancangan instruksional sesuai aspek psikologi siswa.
b) Membuat kelas secara fisik dan psikologis aman.
c) Menunjukkan kepada siswa bahwa kita menghargai mereka dan bahwa siswa sangat berperan dalam pembelajaran.
d) Merancang pengalaman belajar sedemikian hingga semua siswa dapat memperoleh nilai minimal.
4. Meningkatkan ketertarikan terhadap pembelajaran matematika.
5. Mengarahkan pengalaman belajar secara langsung akan sukses sebagai upaya untuk mendorong peningkatan prestasi, sebuah konsep diri yang positif, dan self-efficacy (kepercayaan diri) yang tinggi.
a) Memberikan tujuan yang menantang tetapi dapat dicapai dan, bila perlu, yang melibatkan siswa.
b) Memberikan hasil pengetahuan dengan menekankan hal yang positif.
6. Cobalah untuk mendorong pencapaian prestasi, kepercayaan diri, dan arah diri pada siswa yang membutuhkan kemampuan ini.
a) Menggunakan rencana pelatihan motivasi.
b) Menggunakan metode pembelajaran kooperatif.
7. Cobalah membuat pembelajaran menarik dengan mengutamakan kegiatan, investigasi, percobaan, interaksi sosial, dan kegunaan (manfaat).
Berdasarkan hasil penelitian tersebut motivasi berkaitan dengan aspek psikologi siswa. Dalam setiap pembelajaran matematika, motivasi siswa belum tentu konsisten. Hal tersebut dapat dipengaruhi kondisi psikologi siswa, misalnya kondisi keluarga, lingkungan sekolah atau masyarakat, kemudian metode pembelajaran ataupun materi pembelajaran. Oleh karena itu selain dari individu siswa perlu dukungan dari pihak luar seperti keluarga, lingkungan sekolah maupun masyarakat dalam meningkatkan motivasi belajar. Jika berkaitan dengan materi pembelajaran dan metode pembelajaran maka guru harus memberikan kegiatan pembelajaran yang inovatif dan variatif kepada siswa. Salah satunya dengan menerapkan pembelajaran yang konstruktif dimana siswa membangun pengetahuannya dari pengalaman belajar itu sendiri. Pembelajaran yang diberikan bersifat kontekstual dan menyarankan strategi belajar yang bervariasi serta memastikan bahwa siswa dapat menerapkan informasi yang luas. Dalam hal ini pengalaman dan interaksi sosial mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran.
D. Kesimpulan
Motivasi belajar merupakan keinginan atau dorongan pada diri seseorang baik secara sadar maupun tidak sadar untuk melakukan sesuatu perbuatan dengan tujuan tertentu. Dalam hal ini siswa perlu diberi perlakuan agar timbul motivasi belajar pada diri siswa yaitu diciptakan suatu kondisi tertentu sehingga siswa tergerakkan untuk belajar. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi yaitu faktor baik dari dalam diri siswa maupun dari luar misalnya keluarga, lingkungan sekolah, masyarakat dan terutama guru. Salah satunya persepsi dari masyarakat terhadap matematika bahwa matematika itu sulit juga berdampak terhadap motivasi siswa terhadap pembelajaran matematika. Selain itu faktor utama yang mempengaruhi motivasi adalah guru. Model pembelajaran, metode pembelajaran yang dilakukan guru sangat mempengaruhi motivasi siswanya dalam pembelajaran matematika.
Berdasarkan berbagai hasil penelitian, motivasi mempunyai pengaruhyang signifikan terhadap prestasi belajar matematika. Dalam hal ini guru harus mampu meningkatkan motivasi dalam pembelajaran matematika dengan menyajikan matematika sebagai pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Salah satunya dengan menerapkan pembelajaran yang konstruktif dimana siswa membangun pengetahuannya dari pengalaman belajar itu sendiri. Pembelajaran yang diberikan bersifat kontekstual dan menyarankan strategi belajar yang bervariasi serta memastikan bahwa siswa dapat menerapkan informasi yang luas. Dengan pembelajaran ini diharapkan pembelajaran matematika menjadi lebih menarik dan menyenangkan sehingga siswa mempunyai motivasi yang tinggi dalam pembelajaran matematika.
PROBLEM SOLVING
MAKALAH PROBLEM SOLVING
A. PENDAHULUAN
Matematika merupakan cabang ilmu yang mempelajari hal-hal yang bersifat abstrak, menekankan proses deduktif yang memerlukan penalaran logis dan aksiomatik yang mungkin diawali dari proses induktif, yang meliputi penyusunan konjektur, model matematika, analogi dan atau generalisasi berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah data. Karakteristik lain dari matematika adalah merupakan ilmu terstruktur dan sistematis. Dalam arti bagian-bagian matematika tersusun secara hierarkis dan terjalin dalam hubungan fungsional yang erat dan sifat keteraturan yang indah, yang akan membantu menghasilkan model matematis yang diperlukan dalam pemecahan masalah di berbagai cabang ilmu pengetahuan dan masalah kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, ada ungkapan “mathematics as a human activity”, yang maksudnya dalam kegiatan hidupnya setiap orang akan terlibat dalam matematika, baik dalam bentuk sederhana dan bersifat rutin, dan mungkin dalam bentuknya yang sangat kompleks. (Sumarmo, 2006)
Walaupun matematika sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, penyelesaian terhadap soal aplikasi matematika masih sering sulit dilakukan. Padahal jika merujuk pada kurikulum standar yang telah dikembangkan oleh NCTM (National Council Of Teachers Mathematics, USA), maka kompetensi yang dikembangkan dalam pelajaran matematika meliputi kemamuan dalam materi matematika dan kemampuan doing math. Kemampuan dalam materi matematika disesuaikan dengan materi atau topik yang dibahas di kelas sesuai dengan jenjang kelas atau sekolahnya, Sedangkan kemampuan doing math meliputi matematika sebagau pemecahan masalah (mathematic as problem solving), matematika sebagai komunikasi (mathematics as communication), matematika sebagai penalaran (mathematics as reasoning) dan koneksi-koneksi matematika (mathematical connections).
Menurut teori belajar Gagne (Suherman, 2001), tahapan yang paling tinggi dalam pembelajaran adalah pemecahan masalah. Dalam pemecahan masalah, siswa dituntut untuk berhadapan dengan masalah-masalah nonrutin dan diharuskan mampu menyusun langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah tersebut. Suatu soal dikatakan masalah apabila soal tersebut menantang pikiran (Challenging) dan soal tersebut tidak otomatis ditemukan cara penyelesainnya. Atau dalam pembelajaran, suatu masalah adalah suatu tugas yang mana seseorang berhadapan dengan sesuatu yang memerlukan suatu penyelesaian sementara dia tidak memiliki cara untuk menemukan solusinya.
B. Pengertian Problem Solving
Istilah problem solving sering digunakan dalam berbagai bidang ilmu dan memiliki pengertian yang berbeda-beda pula. Tetapi problem solving dalam matematika memiliki kekhasan tersendiri. Secara garis besar terdapat tiga macam interpretasi istilah problem solving dalam pembelajaran matematika, yaitu (1) problem solving sebagai tujuan (as a goal), (2) problem solving sebagai proses (as a process), dan (3) problem solving sebagai keterampilan dasar (as a basic skill). (Sumardyono, 2010)
1. Problem solving sebagai tujuan (problem solving as a goal)
Para pendidik, matematikawan, dan pihak yang menaruh perhatian pada pendidikan matematika seringkali menetapkan problem solving sebagai salah satu tujuan pembelajaran matematika. Bila problem solving ditetapkan atau dianggap sebagai tujuan pengajaran maka ia tidak tergantung pada soal atau masalah yang khusus, prosedur, atau metode, dan juga isi matematika. Anggapan yang penting dalam hal ini adalah bahwa pembelajaran tentang bagaimana menyelesaikan masalah (solve problems) merupakan “alasan utama” (primary reason) belajar matematika.
Salah satu tujuan pembelajaran matematika dalam KTSP yang tercantum dalam standar isi adalah agar peserta didik memiliki kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai penyelesaian.
2. Problem solving sebagai proses (problem solving as a process)
Pengertian lain tentang problem solving adalah sebagai sebuah proses yang dinamis. Dalam aspek ini, problem solving dapat diartikan sebagai proses mengaplikasikan segala pengetahuan yang dimiliki pada situasi yang baru dan tidak biasa. Dalam interpretasi ini, yang perlu diperhatikan adalah metode, prosedur, strategi dan heuristik yang digunakan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah.
Masalah proses ini sangat penting dalam belajar matematika dan yang demikian ini sering menjadi fokus dalam kurikulum matematika. Sebenarnya, bagaimana seseorang melakukan proses problem solving dan bagaimana seseorang mengajarkannya tidak sepenuhnya dapat dimengerti. Tetapi usaha untuk membuat dan menguji beberapa teori tentang pemrosesan informasi atau proses problem solving telah banyak dilakukan. Dan semua ini memberikan beberapa prinsip dasar atau petunjuk dalam belajar problem solving dan aplikasi dalam pengajaran.
Beberapa prinsip dasar atau karakteristik pembelajaran menggunakan pendekatan Problem Soving adalah sebagai berikut :
a. Adanya interaksi antar siswa dan interaksi guru dan siswa.
b. Adanya dialog matematis dan konsensus antar siswa.
c. Guru menyediakan informasi yang cukup mengenai masalah, dan siswa mengklarifikasi, menginterpretasi, dan mencoba mengkonstruksi penyelesaiannya.
d. Guru menerima jawaban ya-tidak bukan untuk mengevaluasi.
e. Guru membimbing, melatih dan menanyakan dengan pertanyaan-pertanyaan berwawasan dan berbagi dalam proses pemecahan masalah.
f. Sebaiknya guru mengetahui kapan campur tangan dan kapan mundur membiarkan siswa menggunakan caranya sendiri.
g. Karakteristik lanjutan adalah bahwa pendekatan problem solving dapat menggiatkan siswa untuk melakukan generalisasi aturan dan konsep, sebuah proses sentral dalam matematika.
3. Problem solving sebagai keterampilan dasar (problem solving as a basic skill)
Ketiga problem solving sebagai keterampilan dasar (basic skill). Problem solving merupakan suatu keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh siswa. Apalagi kompetensi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan global semakin meningkat, salah satunya kemampuan memecahkan masalah.
C. Problem Solving dalam Pembelajaran Matematika
Tujuan utama dari penggunaan Problem Solving adalah mengembangkan kemampuan siswa memecahkan masalah secara tepat. Adapun tujuan spesifik Problem Solving dalam matematika adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan minat siswa untuk mencoba menyelesaikan masalah dan meningkatkan kemampuan mereka memecahkan msalah.
2. Mengembangkan kemampuan konsep diri siswa sesuai dengan kemampuan untuk memecahkan masalah.
3. Membuat siswa tanggap dengan strategi-strategi Problem-solving.
4. Membuat siswa tanggap dengan nilai-nilai pendekatan masalah dalam cara yang sistematis.
5. Membuat siswa dapat menyelesaikan masalah dalam lebih dari satu cara.
6. Mengembangkan kemampuan siswa untuk memilih strategi penyelesaian yang sesuai..
7. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengimplementasikan strategi penyelesaian secara akurat.
8. Meningkatkan kemampuan siswa untuk memperoleh jawaban yang lebih tepat dari permsalahan.
Polya dalam bukunya ‘How to Solve it’ memaparkan kerangka kerja dalam pemecahan masalah. Langkah-langkah dalam pembelajaran menggunakan problem solving dalam matematika dapat dibedakan menjadi empat tahap, yaitu
1. Memahami masalah
Pada tahap ini siswa diminta untuk memahami permasalahan terlebih dulu sebelum menentukan strategi yang akan digunakan untuk menyelesaikannya. Pemahaman tersebut meliputi :
a. Apa yang tidak diketahui?
b. Apa saja data yang ada pada soal?
c. Bagaimana kondisinya
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam memahami masalah, yaitu :
a. Bacalah permasalahan dengan teliti
b. Temukan informasi-informasi penting
c. Tulislah bilangan-bilangan tersebut.
d. Identifikasi masalah-masalah yang harus diselesaikan
2. Merencanakan strategi penyelesaian
Setelah memahami permasalan, langkah berikutnya adalah merencakan strategi yang akan digunakan dalam memecahkan masalah. Strategi-strategi yang dapat digunakan antara lain :
a. Membuat table (make a table)
Mengorganisasi data ke dalam sebuah table dapat membantu kita dalam mengungkapkan suatu pola tertentu serta dalam mengidentifikasi informasi yang tidak lengkap. Penggunaan table merupakan langkah yang sangat efisien untuk melakukan klasifikasi serta menyusun sejumlah besar data sehingga apabila muncul pertanyaan baru berkenaan dengan data tersebut, maka kita akan dengan mudah mengidentifikasi data dan menjawab pertanyaan dengan baik.
b. Membuat gambar atau diagram (make a picture or diagram)
Strategi ini dapat membantu siswa untuk mengungkapkan informasi yang terkandung dalam masalah sehingga hubungan antar komponen dalam masalah tersebut dapat terlihat jelas. Pada saat guru mencoba mengajarkan strategi ini, penekanan perlu dilakukan bahwa gambar atau diagram yang dibuat tidak terlalu sempurna, terlalu bagus atau terlalu detail. Hal yang perlu digambar atau dibuat diagramnya adalah bagian-bagian terpenting yang diperkirakan mampu memperjelas permasalahan yang dihadapi.
c. Menuliskan persamaan (Write an equation)
Untuk memudahkan dalam memecahkan masalah matematika, maka dapat dilakukan dengan merumuskan permasalahan ke dalam model matematika melalui persamaan matematika
d. Menemukan pola (look for a pattern)
Menemukan pola artunya mengobservasi sifat-sifat yang dimiliki bersama oleh sekumpulan gambar atau bilangan yang tersedia. Kita hanya dapat menggunakan strategi ini hanya bila pola yang diperoleh benarbenar dapat dipertanggungjawabkan atau benar-benar diyakini berlaku umum. Pola yang diperoleh kadang hanya berupa dugaan
(dengan cara induktif) sehingga perlu dilanjutkan dengan pembuktian deduktif.
e. Membuat dugaan atau memeriksa kembali (guess and check)
Strategi menebak yang dimaksudkan disini adalah menebak yang didasarkan pada alasan tertentu serta kehati-hatian. Selain itu, untuk dapat melakukan tebakan dengan baik seseorang perlu memilikipengalaman cukup berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi. Kita mendug (guess) cara penyelesaian, lalu menerapkan atau memriksanya. Jadi yang perlu diduga buka saja jawaban, tetapi apa yang dapat kita lakukan untuk menyelesaian masalah.
f. Bekerja dari belakang (moving towards)
suatu masalah kadang-kadang disajikan dalam suatu cara tertentu sehingga yang diketahui sebenarnya merupakan hasil dari proses tertentu, sedangkan komponen yang ditanyakan merupakan komponen yang seharusnya muncul lebih awal. Penyelesaian masalah seperti ini biasanya dapat dilakukan dengan menggunakan strategi muncur. Contoh masalahnya sebagai berikut :
Jika jumlah dua bilangan bulat adalah 12, sedangkan hasil kalinya 45. Tentukan kedua bilangan tersebut.
g. Menyelesaikan masalah yang lebih sederhana (solve a simple problem)
Suatu masalah kadang lebih mudah diselesaikan bila kita membuatnya menjadi lebih sederhana. Cara ini dapat ditempuh dengan menyederhakan bentuk atau variabel.
Selain itu cara lain yang dapat digunakan antara lain :
a. Membaca dan mengerjakan kembali masalah (Reading and restating problem)
b. Bertukar pikiran (Brainstroming)
c. Melihat dengan cara lain (Looking in another way)
d. Membuat model (Making a model)
e. Mengidentifikasi kasus (Identifying cases)
3. Melaksanakan rencana
Tahap selanjutnya adalah melaksanakan rencana sesuai dengan strategi yang kita pilih untuk menyelesaikan permasalahan. Kita harus memeriksa setiap langkah dalam rencana dan menuliskannya secara detail untuk memastikan bahwa setiap langkah sudah benar.
4. Memeriksa kembali
Pada tahap ini, kita memeriksa kembali hasil yang telah diperoleh apakah telah sesuai dengan data pada soal. Memikirkan atau menelaah kembali langkah-langkah yang telah ditentukan dalam pemecahan masalah merupakan kegiatan yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan anak dalam pemecahan masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diskusi dan mempertimbangkan kembali proses penyelesaian yang telah dibuat merupakan faktor yang sangat signifikan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam pemecahan masalah. (Suherman, 2001)
Contoh penerapan langkah-langkah di atas dalam pemecahan masalah matematika adalah sebagai berikut.
Diketahui permasalahan sebagai berikut :
Lusi memperoleh 14 poin pada keterampilan membaca pada minggu pertama bulan November. Pada akhir minggu berikutnya dia mempunyai total 31 poin. Berapa poin yang dia peroleh pada minggu kedua.
Langkah-langkah pemecahan masalah di atas adalah sebegai berikut :
1. Memahami data
a. Apa yang diketahui :
Yang diketahui adalah jumlah poin yang diperoleh pada minggu pertama adalah 14 dan total poin adalah 31.
b. Apa yang tidak diketahui atau ditanyakan?
Yang ditanyakan adalah jumlah poin pada minggu kedua.
c. Bagaimana kondisinya?
Jumlah poin pada minggu kedua akan lebih kecil dari total poin, tetapi dapat lebih kecil atau lebih besar dari jumlah poin pada minggu pertama.
2. Merencanakan strategi pemecahan masalah
Strategi untuk pemecahan masalah di atas adalah dengan menuliskan persamaan (write an equation). Permasalahan di atas dapat ditulisakan dalam persamaan matematika sebagai berikut :
14 + s = 31, dimana s adalah jumlah poin yang diperoleh pada minggu kedua.
Untuk memperoleh nilai s dapat menggunakan operasi invers dari persamaan ini yaitu : s = 31 – 14
3. Melaksanakan rencana
s = 31 – 14 = 17
4. Memeriksa kembali
Setelah diperoleh nilai s, kita periksa kembali langkah-langkah yang telah kita lakukan dengan membaca kembali soal dan mensubtitusi nilai s yang kita peroleh ke persamaan awal, yaitu 14 + 17 = 31. Jadi, jumlah poin pada minggu kedua yang diperoleh adalah 17.
MODEL MODEL PEMBELAJARAN DI SD
MODEL PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR
“Model Pembelajaran” adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belejar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Dengan demikian aktivitas pembelajaran benar-benar merupakan kegiatan bertujuan yang tertata secara sistematis.
MODEL DAN STRATEGI PEMBELAJARAN
B. Pengertian
Istilah model pembelajaran amat dekat dengan pengertian strategi pembelajaran dan dibedakan dari istilah strategi, pendekatan dan metode pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi, metode, dan teknik. Sedangkan istilah “strategi “ awal mulanya dikenal dalam dunia militer terutama terkait dengan perang atau dunia olah raga, namun demikian makna tersebut meluas tidak hanya ada pada dunia militer atau olahraga saja akan tetapi bidang ekonomi, sosial, pendidikan. Menurut Ruseffendi (1980), istilah strategi, metode, pendekatan dan teknik mendefinisikan sebagai berikut :
1. Strategi pembelajaran adalah separangkat kebijaksanaan yang terpilih, yang telah dikaitkan dengan faktor yang menetukan warna atau strategi tersebut, yaitu :
a. Pemilihan materi pelajaran (guru atau siswa)
b. Penyaji materi pelajaran (perorangan atau kelompok, atau belajar mandiri)
c. Cara menyajikan materi pelajaran (induktif atau deduktif, analitis atau sintesis, formal atau non formal)
d. Sasaran penerima materi pelajaran ( kelompok, perorangan, heterogen, atau homogen.
2. Pendekatan Pembelajaran adalah jalan atau arah yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran dilihat bagaimana materi itu disajikan. Misalnya memahami suatu prinsip dengan pendekatan induktif atau deduktif.
3. Metode Pembelajaran adalah cara mengajar secara umum yang dapat diterapkan pada semua mata pelajaran, misalnya mengajar dengan ceramah, ekspositori, tanya jawab, penemuan terbimbing dan sebagainya.
4. Teknik mengajar adalah penerapan secara khusus suatu metode pembelajaran yang telah disesuaikan dengan kemampuan dan kebiasaan guru, ketersediaan media pembelajaran serta kesiapan siswa. Misalnya teknik mengajarkan perkalian dengan penjumlahan berulang.
Sedangkan Model Pembelajaran adalah sebagai suatu disain yang menggambakan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa (Didang : 2005)
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998 : 203), pengertian strategi (1) ilmu dan seni menggunakan sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam dan perang damai, (2) rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.
Soedjadi (1999 :101) menyebutkan strategi pembelajaran adalah suatu siasat melakukan kegiatan pembelajaran yang bertujuan mengubah keadaan pembelajaran menjadi pembelajaran yang diharapkan. Untuk dapat mengubah keadaan itu dapat ditempuh dengan berbagai pendekatan pembelajaran. Lebih lanjut Soedjadi menyebutkan bahwa dalam satu pendekatan dapat dilakukan lebih dari satu metode dan dalam satu metode dapat digunakan lebih dari satu teknik. Secara sederhana dapat dirunut sebagai rangkaian :
teknik metode pendekatan strategi model
Istilah “ model pembelajaran” berbeda dengan strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan pendekatan pembelajaran. Model pembelajaran meliputi suatu model pembelajaran yang luas dan menyuluruh. Konsep model pembelajaran lahir dan berkembang dari pakar psikologi dengan pendekatan dalam setting eksperimen yang dilakukan. Konsep model pembelajaran untuk pertama kalinya dikembangkan oleh Bruce dan koleganya (Joyce, Weil dan Showers, 1992)
Lebih lanjut Ismail (2003) menyatakan istilah Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode tertentu yaitu :
1. rasional teoritik yang logis disusun oleh perancangnya,
2. tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
3. tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil dan
4. lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.
Berbedanya pengertian antara model, strategi, pendekatan dan metode serta teknik diharapkan guru mata pelajaran umumnya dan khususnya matematika mampu memilih model dan mempunyai strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi dan standar kompetensi serta kompetensi dasar dalam standar isi.
C. Pemilihan Model Pembelajaran Sebagai Bentuk Implementasi Strategi Pembelajaran.
Dalam pembelajaran guru diharapkan mampu memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Dimana dalam pemilihan Model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama diantara siswa-siswa. Dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.
Model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai contoh pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pembelajaran langsung, suatu model pembelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar seperti tabel perkalian atau untuk topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat. Akan tetapi ini tidak sesuai bila digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep matematika tingkat tinggi.
Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran tertentu menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru atau siswa. Sintaks (pola urutan) dari bermacam-macam model pembelajaran memiliki komponen-komponen yang sama. Contoh, setiap model pembelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pembelajaran. Setiap model pembelajaran diakhiri dengan tahap menutup pelajaran, didalamnya meliputi kegiatan merangkum pokok-pokok pelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru.
Tiap-tiap model pembelajaran membutuhkan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Misalnya, model pembelajaran kooperatif memerlukan lingkungan belajar yang fleksibel seperti tersedia meja dan kursi yang mudah dipindahkan. Pada model pembelajaran diskusi para siswa duduk dibangku yang disusun secara melingkar atau seperti tapal kuda. Sedangkan model pembelajaran langsung siswa duduk berhadap-hadapan dengan guru.
Pada model pembelajaran kooperatif siswa perlu berkomunikasi satu sama lain, sedangkan pada model pembelajaran langsung siswa harus tenang dan memperhatikan guru.
Pemilihan model dan metode pembelajaran menyangkut strategi dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran adalah perencanaan dan tindakan yang tepat dan cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar kompetensi dasar dan indikator pembelajarannya dapat tercapai. Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Di madrasah, tindakan pembelajaran ini dilakukan nara sumber (guru) terhadap peserta didiknya (siswa). Jadi, pada prinsipnya strategi pembelajaran sangat terkait dengan pemilihan model dan metode pembelajaran yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi bahan ajar kepada para siswanya.
Pada saat ini banyak dikembangkan model-model pembelajaran. Menurut penemunya, model pembelajaran temuannya tersebut dipandang paling tepat diantara model pembelajaran yang lain. Untuk menyikapi hal tersebut diatas, maka perlu kita sepakati hal-hal sebagai berikut :
1. Siswa Pendidikan Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah banyak yang masih berada dalam tahap berpikir konkret. Model dan metode apapun yang diterapkan, pemanfaatan alat peraga masih diperlukan dalam menjelaskan beberapa konsep matematika.
2. Kita tidak perlu mendewakan salah satu model pembelajaran yang ada. Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelemahan dan kekuatan.
3. Kita dapat memilih salah satu model pembelajaran yang kita anggap sesuai dengan materi pembelajaran kita; dan jika perlu kita dapat menggabungkan beberapa model pembelajaran.
4. Model apa pun yang kita terapkan, jika kita kurang menguasai meteri dan tidak disenangi para siswa, maka hasil pembelajaran menjadi tidak efektif.
5. Oleh kerena itu komitmen kita adalah sebagai berikut :
a. Kita perlu menguasai materi yang harus kita ajarkan, dapat mengajarkannya, dan terampil dalam menggunakan alat peraga.
b. Kita berniat untuk memberikan yang kita punyai kepada para siswa dengan sepenuh hati, hangat, ramah, antusias, dan bertanggung jawab.
c. Menjaga agar para siswa “mencintai” kita, menyenangi materi yang kta ajarkan, dengan tetap menjaga kredibilitas dan wibawa kita sebagai guru dapat mengembangkan model pembelajaran sendiri. Anggaplah kita sedang melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas.
Model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh para guru sangat beragam. Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat di capai dengan lebih efektif dan efisien.
D. Macam-Macam Model Pembelajaran
Pembelajaran mencari dan bermakna
Pembelajaran terpadu
Pembelajaran kooperatif
Pembelajaran Picture and Picture
Pembelajaran cooperative integrated Reading and composition (CIRC)
Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Model Penemuan Terbimbing
Model Pembelajaran Langsung
Model Missouri Mathematics Project (MMP)
Model Pmbelajarn Problem solving
Model Pmbelajarn Problem posing
Pembelajaran kontekstual.
Diposkan 24th January 2013 oleh Kenakalan Remaja
0 Tambahkan komentar
JAN
24
KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS
A. Pendahuluan
Berpikir merupakan suatu aktivitas mental untuk membantu memecahkan masalah, membuat keputusan, atau memenuhi rasa keingintahuan. Kemampuan berpikir terdiri dari dua yaitu kemampuan berpikir dasar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kemampuan berpikir dasar (lower order thinking) hanya menggunakan kemampuan terbatas pada hal-hal rutin dan bersifat mekanis, misalnya menghafal dan mengulang-ulang informasi yang diberikan sebelumnya. Sementara, kemampuan berpikir tinggi (higher order thinking) membuat siswa untuk mengintrepretasikan, menganalisa atau bahkan mampu memanipulasi informasi sebelumnya sehingga tidak monoton. Kemampuan berpikir tinggi (higher order thinking) digunakan apabila seseorang menerima informasi baru dan menyimpannya untuk kemudian digunakan atau disusun kembali untuk keperluan pemecahan masalah berdasarkan situasi.
Permen 22 Tahun 2006 (Standar Isi) menyatakan mata pelajaran matematika diberikan kepada semua peserta didik untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Oleh karena itu sangat diperlukan peningkatan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang merupakan salah satu prioritas dalam pembelajaran matematika sekolah.
Secara umum, keterampilan berpikir terdiri atas empat tingkat, yaitu: menghafal (recall thinking), dasar (basic thinking), kritis (critical thinking) dan kreatif (creative thinking) (Krulik & Rudnick, 1999). Tingkat berpikir paling rendah adalah keterampilan menghafal (recall thinking) yang terdiri atas keterampilan yang hampir otomatis atau refleksif. Tingkat berpikir selanjutnya adalah keterampilan dasar (basic thinking). Keterampilan ini meliputi memahami konsep-konsep seperti penjumlahan, pengurangan dan sebagainya termasuk aplikasinya dalam soal-soal.
Berpikir kritis adalah berpikir yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek dari situasi atau masalah. Termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi. Berpikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Ini juga berarti mampu menarik kesimpulan dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidakkonsistenan dan pertentangan dalam sekelompok data. Berpikir kritis adalah analitis dan refleksif.
Berpikir kreatif sifatnya orisinil dan reflektif. Hasil dari keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks. Kegiatan yang dilakukan di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan efektifitasnya. Berpikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menemukan hasil akhir yang baru.
Dua tingkat berpikir terakhir inilah (berpikir kritis dan berpikir kreatif) yang disebut sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi yang harus dikembangkan dalam pembelajaran matematika. Dalam hal ini akan dibahas mengenai kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran matematika.
B. Pengertian Berfikir Kritis
Istilah berpikir kritis (critical thinking) sering disamakan artinya dengan berpikir konvergen, berpikir logis (logical thinking) dan reasoning. R.H Ennis, dalam Hassoubah (2004), mengungkapkan bahwa berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Oleh karena itu, indikator kemampuan berpikir kritis dapat diturunkan dari aktivitas kritis siswa sebagai berikut :
1. Mencari pernyataan yang jelas dari setiap pertanyaan.
2. Mencari alasan.
3. Berusaha mengetahui informasi dengan baik.
4. Memakai sumber yang memiliki kredibilitas dan menyebutkannya.
5. Memperhatikan situasi dan kondisi secara keseluruhan.
6. Berusaha tetap relevan dengan ide utama
7. Mengingat kepentingan yang asli dan mendasar.
8. Mencari alternatif.
9. Bersikap dan berpikir terbuka.
10. Mengambil posisi ketika ada bukti yang cukup untuk melakukan sesuatu.
11. Mencari penjelasan sebanyak mungkin apabila memungkinkan.
12. Bersikap secara sistimatis dan teratur dengan bagian-bagian dari keseluruhan masalah.
Indikator kemampuan berpikir kritis yang diturunkan dari aktivitas kritis no. 1 adalah mampu merumuskan pokok-pokok permasalahan. Indikator yang diturunkan dari aktivitas kritis no. 3, 4, dan 7 adalah mampu mengungkap fakta yang dibutuhkan dalam menyelesaikan suatu masalah. Indikator yang diturunkan dari aktivitas kritis no. 2, 6, dan 12 adalah mampu memilih argumen logis, relevan dan akurat. Indikator yang diturunkan dari aktivitas kritis no. 8 dan 10, dan 11 adalah mampu mendeteksi bias berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda. Indikator yang diturunkan dari aktivitas kritis no. 5 dan 9 adalah mampu menentukan akibat dari suatu pernyataan yang diambil sebagai suatu keputusan.
Menurut R. Swartz dan D.N. Perkins dalam Hassoubah (2004: 86) menyatakan bahwa berpikir kritis berarti:
1. Bertujuan untuk mencapai penilaian yang kritis terhadap apa yang akan diterima atau apa yang akan dilakukan dengan alasan yang logis.
2. Memakai standar penilaian sebagai hasil dari berpikir kritis dalam membuat keputusan.
3. Menerapkan berbagai strategi yang tersusun dan memberikan alasan untuk menentukan serta menerapkan standar tersebut.
4. Mencari dan menghimpun informasi yang dapat dipercaya untuk dipakai sebagai bukti yang mendukung suatu penilaian.
Dalam rangka mengetahui bagaimana mengembangkan berpikir kritis pada diri seseorang, R.H Ennis dalam Hassoubah (2004: 87) memberikan sebuah definisi berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Tujuan dari berpikir kritis adalah agar dapat menjauhkan seseorang dari keputusan yang keliru dan tergesa-gesa sehingga tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Selanjutnya Beyer dalam Hassoubah (2004), menyatakan bahwa kemampuan berpikir kritis ini meliputi keterampilan untuk menentukan kredibilitas suatu sumber, membedakan antara yang relevan dan yang tidak relevan, membedakan fakta dari penilaian, mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi yang tidak terucapkan, mengidentifikasi bias yang ada, mengidentifikasi sudut pandang, mengevaluasi bukti yang ditawarkan. Selanjutnya Tyler dalam Redhana (2003: 13-14) berpendapat bahwa pengalaman atau pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh keterampilan-keterampilan dalam pemecahan masalah dapat merangsang keterampilan berpikir kritis siswa. Pertukaran gagasan yang aktif didalam kelompok kecil tidak hanya menarik perhatian siswa tetapi juga dapat mempromosikan pemikiran kritis. Kerjasama dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam diskusi, bertanggung jawab terhadap pelajaran sehingga dengan begitu mereka menjadi pemikir yang kritis (Totten dalam Gokhale 2002).
Berpikir kritis tidak sama dengan mengakumulasi informasi. Seorang dengan daya ingat baik dan memiliki banyak fakta tidak berarti seorang pemikir kritis. Seorang pemikir kritis mampu menyimpulkan dari apa yang diketahuinya, dan mengetahui cara memanfaatkan informasi untuk memecahkan masalah, and mencari sumber-sumber informasi yang relevan untuk dirinya. Berpikir kritis tidak sama dengan sikap argumentatif atau mengecam orang lain. Berpikir kritis bersifat netral, objektif, tidak bias. Meskipun berpikir kritis dapat digunakan untuk menunjukkan kekeliruan atau alasan-alasan yang buruk, berpikir kritis dapat memainkan peran penting dalam kerja sama menemukan alasan yang benar maupun melakukan tugas konstruktif. Pemikir kritis mampu melakukan introspeksi tentang kemungkinan bias dalam alasan yang dikemukakannya.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis merupakan kemampuan menelaah atau menganalisis suatu sumber, mengidentifikasi sumber yang relevan dan yang tidak relevan, mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi, menerapkan berbagai strategi untuk membuat keputusan yang sesuai dengan standar penilaian.
C. Unsur-unsur Dasar Berpikir Kritis
Menurut Ennis (1996: 364) terdapat 6 unsur dasar dalam berpikir kritis yang disingkat menjadi FRISCO :
F (Focus): Untuk membuat sebuah keputusan tentang apa yang diyakini maka harus bisa memperjelas pertanyaan atau isu yang tersedia, yang coba diputuskan itu mengenai apa.
R (Reason): Mengetahui alasan-alasan yang mendukung atau melawan putusan-putusan yang dibuat berdasar situasi dan fakta yang relevan.
I (Inference): Membuat kesimpulan yang beralasan atau menyungguhkan. Bagian penting dari langkah penyimpulan ini adalah mengidentifikasi asumsi dan mencari pemecahan, pertimbangan dari interpretasi akan situasi dan bukti.
S (Situation): Memahami situasi dan selalu menjaga situasi dalam berpikir akan membantu memperjelas pertanyaan (dalam F) dan mengetahui arti istilah-istilah kunci, bagian-bagian yang relevan sebagai pendukung.
C (Clarity): Menjelaskan arti atau istilah-istilah yang digunakan.
O (Overview): Melangkah kembali dan meneliti secara menyeluruh keputusan yang diambil.
Untuk menilai kemampuan berpikir kritis Watson dan Glaser (1980) melakukan pengukuran melalui tes yang mencakup lima buah indikator, yaitu mengenal asumsi, melakukan inferensi, deduksi, interpretasi, dan mengevaluasi argumen. Joko Sulianto (2011) mengatakan bahwa kemampuan berpikir kritis sebagai bagian dari keterampilan berpikir perlu dimiliki oleh setiap anggota masyarakat, sebab banyak sekali persoalan-persoalan dalam kehidupan yang harus dikerjakan dan diselesaikan.
D. Pentingnya Berpikir Kritis
Berpikir kritis merupakan hal penting yang harus lakukan diantaranya karena:
1. Berpikir kritis memungkinkan siswa memanfaatkan potensi seseorang dalam melihat masalah, memecahkan masalah, menciptakan, dan menyadari diri.
2. Berpikir kritis merupakan keterampilan universal. Kemampuan berpikir jernih dan rasional diperlukan pada pekerjaan apapun, ketika mempelajari bidang ilmu apapun, untuk memecahkan masalah apapun, jadi merupakan aset berharga bagi karir seorang.
3. Berpikir kritis sangat penting di era informasi dan teknologi. Seorang harus merespons perubahan dengan cepat dan efektif, sehingga memerlukan keterampilan intelektual yang fleksibel, kemampuan menganalisis informasi, dan mengintegrasikan berbagai sumber pengetahuan untuk memecahkan masalah.
4. Berpikir kritis meningkatkan keterampilan verbal dan analitik. Berpikir jernih dan sistematis dapat meningkatkan cara mengekspresikan gagasan, berguna dalam mempelajari cara menganalisis struktur teks dengan logis, meningkatkan kemampuan untuk memahami.
5. Berpikir kritis meningkatkan kreativitas. Untuk menghasilkan solusi kreatif terhadap suatu masalah tidak hanya perlu gagasan baru, tetapi gagasan baru itu harus berguna dan relevan dengan tugas yang harus diselesaikan. Berpikir kritis berguna untuk mengevaluasi ide baru, memilih yang terbaik, dan memodifikasi bisa perlu.
6. Berpikir kritis penting untuk refleksi diri. Untuk memberi struktur kehidupan sehingga hidup menjadi lebih berarti (meaningful life), maka diperlukan kemampuan untuk mencari kebenaran dan merefleksikan nilai dan keputusan diri sendiri. Berpikir kritis merupakan meta-thinking skill, ketrampilan untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri terhadap nilai dan keputusan yang diambil, kemudian dalam konteks membuat hidup lebih berarti yaitu melakukan upaya sadar untuk menginternalisasi hasil refleksi itu ke dalam kehidupan sehari-hari.
E. Cara Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis
Di dalam kelas atau ketika berinteraksi dengan orang lain, cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan berpikir kritis adalah:
1. Membaca dengan kritis
Untuk berpikir secara kritis seseorang harus membaca dengan kritis pula. Dengan membaca secara kritis, diterapkan keterampilan-keterampilan berpikir kritis seperti mengamati, menghubungkan teks dengan konteksnya, mengevaluasi teks dari segi logika dan kredibilitasnya, merefleksikan kandungan teks dengan pendapat sendiri, membandingkan teks satu dengan teks lain yang sejenis.
2. Meningkatkan daya analisis
Dalam suatu diskusi dicari cara penyelesaian yang baik, untuk suatu permasalahan, kemudian mendiskusikan akibat terburuk yang mungkin terjadi.
3. Mengembangkan kemampuan observasi atau mengamati
Dengan mengamati akan didapat penyelesaian masalah yang misalnya menghendaki untuk menyebutkan kelebihan dan kekurangan, pro dan kontra akan suatu masalah, kejadian atau hal-hal yang diamati. Dengan demikian memudahkan seseorang untuk menggali kemampuan kritisnya.
4. Meningkatkan rasa ingin tahu, kemampuan bertanya dan refleksi
Pengajuan pertanyaan yang bermutu, yaitu pertanyaan yang tidak mempunyai jawaban benar atau salah atau tidak hanya satu jawaban benar, akan menuntut siswa untuk mencari jawaban sehingga mereka banyak berpikir.
Dari hasil penelitian, L. M. Sartorelli dan R. Swartz dalam Hassoubah (2004: 96-110), beberapa cara meningkatkan keterampilan berpikir kritis diantaranya adalah dengan meningkatkan daya analisis dan mengembangkan kemampuan observasi/mengamati.
Menurut Christensen dan Marthin dalam Redhana (2003: 21) bahwa strategi pemecahan masalah dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan siswa dalam mengadaptasi situasi pembelajaran yang baru. Tyler dalam Redhana (2003: 21) berpendapat bahwa pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh keterampilan-keterampilan dalam pemecahan masalah akan meningkatkan kemampuan berpikir siswa.
CONTOH PROPOSAL TESIS
PROPOSAL PENELITIAN
PENGEMBANGAN PROSES PEMBELAJARAN DENGAN
PEMANFAATAN MEDIA BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) PADA MATA PELAJARAN IPA DI KELAS V SDN
RAHAYU KABUPATEN PANDEGLANG PROVINSI BANTEN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dunia Pendidikan diharapkan dapat membentuk manusia yang
berpikir kritis, kreatif, inovatif, produktif, bertanggung jawab, dan
berkepribadian yang baik. Pada dasarnya pendidikan adalah suatu lembaga
atau instansi pemerintahan yang berusaha untuk mengajar dan mendidik
anak-anak bangsa untuk menjadi orang dewasa yang cerdas dan
berkepribadian luhur. Sebagaimana cita-cita bangsa kita yang tertuang dalam
alinea ke empat UUD 1945. Pendidikan sangat dibutuhkan masyarakat kita,
baik dari kalangan ekonomi tinggi maupun rendah. Dengan pendidikan,
masyarakat akan mendapatkan ilmu dan pengalaman sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat Indonesia.
Namun demikian, kenyataan menunjukkan mutu pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih rendah. Menurut M. J Langeveld (Rubiyanto dkk, 2003:20) Pendidikan adalah kegiatan membimbing anak manusia menuju pada kedewasaan dan mandiri. Dalam pendidikan terdapat perbuatan belajar baik siswa maupun guru. Kegiatan belajar menimbulkan terbentuknya kebiasaan yang berupa tingkah laku yang semakin terampil dan efisien. Kegiatan belajar ini bertujuan untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang permanen dan lebih maju. Seiring dengan perubahan paradigma pembelajaran, maka keberhasilan kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar tidak hanya ditentukan oleh faktor pengajar/guru, melainkan sangat dipengaruhi oleh penggunaan media pembelajaran dan keaktifan siswa. Kurikulum baru tahun 2006 mempertegas bahwa proses pembelajaran harus berpusat pada peserta belajar, pengajar bukan sebagai satu-satunya sumber belajar atau sumber informasi, melainkan berperan sebagai fasilitator, dinamisator, dan motivator dalam pembelajaran. Dalam paradigma belajar, siswa diposisika sebagai subjek. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang harus digeluti, dipikirkan, dan dikonstruksi oleh siswa., tidak dapat ditransfer kepada mereka yang hanya menerima secara pasif.
Dengan demikian, siswa sendirilah yang harus aktif. Selain itu dibutuhkan sebuah metode pembelajaran yang membuat proses pembelajaran yang menyenangkan dan mudah dipahami. Tren pembelajaran saat ini adalah pembelajaran kontekstual. Belajar secara
kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata peserta didik, dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. (Masnur Muslich: 2007)
Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran adalah dengan
pengembangan media pembelajaran yang digunakan. Dalam kegiatan belajar mengajar diperlukan suatu media. Syaiful Bahri (1995: 136) menjelaskan di dalam kegiatan belajar mengajar ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat.
Kemajuan bidang teknologi dan informasi telah mendorong manusia
untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitasnya pada setiap kegiatan. Informasi
dan komunikasi dapat diakses dengan mudah dan cepat sesuai kebutuhan. Pada
masa mendatang diyakini bahwa tidak ada bidang kehidupan manusia yang tidak
memanfaatkan teknologi dan komunikasi, begitu pula dalam pendidikan.
Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (komputer khususnya)
dalam pembelajaran ditingkat Sekolah Dasar mampu menyajikan media dalam
bentuk grafik dan audio-video. Saat ini pemanfaatan komputer sebagai media
pembelajaran masih jarang diterapkan di sekolah, karena belum banyak produsen
yang menawarkan software khusus sebagai media pembelajaran. Media
komputer bukan alat untuk membantu siswa menyelesaikan soal-soal seperti halnya penggunaan kalkulator untuk mempercepat proses perhitungan.
Penggunaan komputer hanyalah untuk membantu siswa dalam memahami konsep, sedangkan penyelesaian soal tetap diserahkan pada kemampuan siswa. Kerucut pengalaman belajar yang dikemukakan oleh Masnur Muslich dalam bukunya yang berjudul “KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual panduan bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah” menunjukkan bahwa persentase kadar yang dapat diingat dari yang didengar adalah 20%, 30% dapat diingat dari yang dilihat, dan 50% dapat diingat dari yang dilihat dan didengar, maka media pendidikan dapat berfungsi untuk membantu tercapainya kadar prestasi belajar peserta didik karena mampu menghadirkan audio-visual seperti yang diharapkan.
Ketika seseorang sedang berbicara maka ia akan bersuara, menggunakan
gerak-gerik, ekspresi wajah, mungkin menggunakan pengeras suara dan gerakan-
gerakan lainnya, maka orang tersebut sudah dapat dikelompokkan berkomunikasi
menggunakan beberapa media atau multimedia. Sementara komputer
menggunakan media visual berupa gambar, foto, chart, grafik, diagram dan lainnya, audio berupa orang bicara, musik, suara alam gesekan dedaunan, air yang menetes di batu kali, burung berkicau, lenguh suara lembu, kucing mengeong dan lainnya, termasuk media lain yang diakses dari sumber yang amat jauh melaui internet. Pembelajaran yang menggunakan komputer dan perangkat jaringan lainnya itulah yang dimaksud sebagai multimedia.
Dalam pengajaran yang dibantu dengan multimedia, tingkat penguasaan
materi yang dicapai peserta didik disesuaikan dengan kemampuannya. Setelah
menguasai suatu materi maka dilanjutkan ke materi berikutnya, ini akan membantu memecahkan masalah siswa-siswa yang lamban. Media yang difungsikan sebagai sumber belajar bila dilihat dari pengertian harfiahnya juga terdapat manusia di dalamnya, benda, ataupun segala sesuatu yang memungkinkan untuk anak didik memperoleh informasi dan pengetahuan yang berguna bagi anak didik dalam pembelajaran, dan bagaimana dengan adanya media berbasis TIK tersebut, khususnya menggunakan presntasi power point di mana anak didik mempunyai keinginan untuk maju, dan juga mempunyai kreatifitas yang tinggi dan memuaskan dalam perkembangan mereka di kehidupan kelak.
Sasaran penggunaan media adalah agar anak didik mampu
mencipatakan sesuatu yang baru dan mampu memanfaatkan sesuatu yang telah ada untuk dipergunakan dengan bentuk dan variasi lain yang berguna dalam kehidupannya,. Dengan demikian mereka dengan mudah mengerti dan mamahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru kepada mereka. Arief S. Sadiman ( 1984:6 ) mengatakan bahwa media “ adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar seperti film, buku dan kaset “. RE Clark ( 1996 : 62 ) mengungkapkan bahwa “ the of of media to encourage student to invest more afford in hearing has along history “. Dari pandangan yang ada di atas dapat dikatakan bahwa media merupakan alat yang memungkinakn anak muda untuk mengerti dan memahami sesuatu dengan mudah dan dapat untuk mengingatnya dalam waktu yang lama dibangdingkan dengan penyampaian materi pelajaran dengan cara tatap muka dan ceramah tanpa alat bantuan. Menurut Soeparno (1987:8) menyebutkan ada beberapa alasan memilih media dalam proses belajar mengajar, yakni :
a. ada berbagai macam media yang mempunyai kemungkinan dapat kita
pakai di dalam proses belajar mengajar,
a. ada media yang mempunyai kecocokan untuk menyampaikan informasi
tertentu
c. ada perbedaan karakteristik setiap media
d. ada perbedaan pemakai media tersebut
e. ada perbedaan situasi dan kondisi tempat media dipergunakan
Bertitik tolak dari pendapat tersebut, jelaslah bahwa memilih media
tidak mudah. Media yang akan digunakan harus memperhatikan beberapa
ketentuan dengan pertimbangan bahwa penggunaan media harus benar-benar
berhasil guna dan berdaya guna untuk meningkatkan dan memperjelas
pemahaman siswa.
B. Batasan Masalah
Meskipun banyak permasalahan yang berkaitan dengan pemanfaatan
media dan sumber belajar dalam proses pembelajaran yang berbasis TIK,
namun dalam penelitian ini hanya membatasi pada masalah sebagai berikut:
a. Media yang digunakan adalah Komputer dan LCD Proyektor.
b. Perancangan media pembelajaran menggunakan progam Microsoft Power
Point.
c. Pengembangan media pembelajaran pada mata pelajaran IPA kelas V.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka untuk
memperjelas permasalahan yang akan diteliti, maka masalah tersebut
dirumuskan sebagai berikut :
a. Bagaimana peningkatan prestasi belajar dengan menggunakan media
pem belajaran berbasis TIK pada mata pelajaran IPA melalui progam
Microsoft Power Point?
b. Bagaimana tanggapan guru tentang media pembelajaran berbasis TIK dengan
progam Microsoft Power Point dalam kegiatan belajar mengajar?
c. Sejauh mana efektifitas pengggunaan media pembelajaran berbasis
TIK progam Microsoft Power Point dalam menumbuhkan minat belajar siswa?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini
adalah ingin :
a. Mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar dengan menggunakan media pembelajaran berbasis TIK pada mata pelajaran IPA melalui progam Microsoft Power Point
b. Mendeskripsikan tanggapan guru tentang media pembelajaran berbasis TIK
dengan progam Microsoft Power Point dalam kegiatan belajar mengajar
c. Mendeskripsikan efektifitas pengggunaan media pembelajaran berbasis TIK
progam Microsoft Power Point dalam menumbuhkan minat belajar siswa
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
a. Manfaat Teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi
perkembangan pendidikan di Indonesia. Terutama bagi perkembangan
media pembelajaran IPA berbasis komputer pada jenjang Sekolah Dasar.
b. Manfaat Praktis
1) Bagi siswa, untuk lebih meningkatkan pemanfaatan media
pembelajaran berbasis TIK sebagai sumber belajar, sehingga
mempercepat pemahaman dan daya serap siswa terhadap materi
pembelajaran.
2) Bagi sekolah, sebagai bahan pertimbangan dalam membuat
kebijakan dan program kerja yang berkaitan dengan fasilitas sumber
belajar.
3) Bagi peneliti, sebagai dorongan untuk lebih meningkatkan
penguasaan teknologi informasi sehingga dapat memperbaiki
kemampuan dalam mengajar.
F. Definisi Operasional
a. Media
Media adalah alat yang memungkinakn anak muda untuk mengerti dan
memahami sesuatu dengan mudah dan dapat untuk mengingatnya dalam
waktu yang lama dibangdingkan dengan penyampaian materi pelajaran
dengan cara tatap muka dan ceramah tanpa alat bantuan.
b. Prestasi belajar adalah seluruh kecakapan hasil (achievement) yang
diperoleh melalui belajar di sekolah, yang dinyatakan dengan nilai-nilai
prestasi belajar berdasarkan hasil tes prestasi belajar.
c. Sumber Belajar
Segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara
terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar
mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan
pembelajaran.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Belajar
a. Pengertian Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami siswa sebagai anak didik.
Pandangan seseorang tentang belajar akan mempengaruhi tindakannya
yang berhubungan dengan belajar. Dan tidak setiap orang mempunyai
pandangan yang sama dalam belajar. Diantara para ahli psikologi maupun
ahli pendidikan terdapat keragaman dalam cara mendefinisikan dan
menjelaskan tentang belajar. Namun demikian baik secara eksplisit pada akhirnya nampak ada suatu kesamaan dalam hal maknanya. Pengertian belajar adalah : “suatu proses yang mengarah kepada perubahan tingkah laku seseorang berkat adanya pengalaman” (Slameto,2003:2).
Syah (1995:13) menyatakan bahwa belajar dapat dipahami sebagai
tahapan perubahan tingkah lau individu yang relatif menerap sebagai hasil
pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses
perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasatkan praktek atau
pengalaman tertentu. Belajar adalah memodifikasi atau mempertangguh
kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing) (Hamalik, 1998:36)
Perubahan dapat dinyatakan sebagai suatu kecakapan, suatu kebiasaan,
suatu sikap, suatu pengertian, sebagai pengetahuan atau apresiasi (penerimaan
atau penghargaan). Tentang berbagai definisi belajar, Surachman (1979 dalam Mulyadi,1998:18) memandang belajar dari kenyataan-kenyataan yang timbul daripada proses belajar. Dan menyimpulkan bahwa : “Belajar dapat dipandang sebagai hasil, di mana guru di mana melihat bentuk terakhir dari berbagai pengalaman interaksi edukatif. Belajar dapat pula dipandang sebagai proses di mana guru terutama melihat apa yang terjadi selama siswa menjalani pengalaman-pengalaman edukatif untuk mencapai suatu tujuan. Dan akhirnya belajar juga dapat dipandang sebagai sebuah fungsi, yang dalam hal ini ditunjukkan pada aspek-aspek yang menentukan atau memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku dalam pengalaman edukatif”.
Rumusan belajar tersebut dapat berguna bagi guru untuk dapat
meningkatkan atau memotivasi siswa dalam belajar. Tidak hanya itu saja guru juga dapat melihat setiap perubahan yang terjadi pada siswa dalam proses pembelajaran.
b. Prinsip-prinsip belajar
Menurut William Burton dalam Hamalik (2004:31) prinsip–prinsip
belajar adalah sebagai berikut :
1) Proses belajar ialah pengalaman, berbuat, mereaksi, dan melampui
(under going).
2) Proses itu melalui bermacam–macam ragam pengalaman dan mata
pelajaran-mata pelajaran yang terpusat pada suatu tujuan tertentu.
3) Pengalaman belajar secara maksimum bermakna bagi kehidupan
murid.
4) Pengalaman belajar bersumber dari kebutuhan dan tujuan murid
sendiri yang mendorong motivasi yang kontinu.
5) Proses belajar dan hasil belajar disyarati oleh hereditas dan
lingkungan.
6) Proses belajar dan hasil usaha belajar secara materiil dipengaruhi
oleh perbedaan-perbedaan individual dikalangan murid-murid.
7) Proses belajar berlangsung secara efektif apabila pengalaman–
pengalaman dan hasil–hasil yang diinginkan disesuaikan dengan
kematangan murid.
8) Proses belajar yang terbaik apabila murid mengetahui status dan
kemajuan.
9) Proses belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagi
prosedur.
10) Hasil–hasil belajar secara fungsional bertalian satu sama lain,
tetapi dapat didiskusikan secara terpisah.
11) Proses belajar berlangsung secara efektif dibawah bimbingan yang
merangsang dan membimbing tanpa tekanan dan pemeriksaan.
12) Hasil–hasil belajar adalah pola–pola perbuatan, nilai–nilai ,
pengertian–pengertian, apresiasi, abilitas, dan keterampilan.
13) Hasil–hasil belajar diterima murid apabila memberi kepuasan
kepada kebutuhannya dan berguna serta bermakna baginya.
14) Hasil–hasil belajar dilengkapi dengan jalan serangkaian
pengalaman–pengalaman yang dapat dipersamakan dan
dengan pertimbangan yang baik.
15) Hasil–hasil belajar itu lambat laun dipersatukan menjadi
kepribadian dengan kecepatan yang berbeda–beda
16) Hasil-hasil belajar yang telah dicapai adalah bersifat kompleks dan
dapat berubah-ubah (adaptable), jadi tidak sederhana dan statis.
c. Faktor-Faktor Belajar
Menurut Hamalik (2004:32) faktor–faktor belajar adalah sebagai
berikut:
1) Faktor kegiatan, penggunaan dan ulangan; siswa yang belajar
melakukan banyak kegiatan baik kegiatan neural system, seperti melihat,
mendengar, merasakan, berfikir, kegiatan motoris, dan sebagainya maupun
kegiatan-kegiatan lainnya yang diperlukan untuk memperoleh
pengetahuan, sikap, kebiasaan, dan minat. Apa yang telah dipelajari perlu
digunakan secara praktis dan diadakan ulangan secara kontinu dibawah
kondisi yang serasi, sehingga penguasaan hasil belajar menjadi lebih baik.
2) Belajar memerlukan latihan, dengan jalan ; relearning,
recalling, dan reviewing agar pelajaran yang terlupakan dapat dikuasai kembali dan pelajaran yang belum dikuasai akan dapat lebih mudah dipahami.
3) Belajar siswa lebih berhasil, belajar akan lebih berhasil jika
siswa merasa berhasil dan mendapatkan kepuasannya. Belajar hendaknya
dilakukan dalam suasana yang menyenangkan.
4) Siswa yang belajar perlu mengetahui apakah ia berhasil atau
gagal dalam belajarnya. Keberhasilan akan menimbulkan kepuasan dan
mendorong belajar lebih baik, sedangkan kegagalan akan menimbulkan
frustasi.
5) Faktor asosiasi besar manfaatnya dalam belajar, karena semua
pengalaman belajar antara yang lama dengan yang baru, secara berurutan
diasosiasikan, sehingga menjadi satu kesatuan dalam pengalaman.
6) Pengalaman masa lalu (bahan apersepsi) dan pengertian-pengertian yang telah dimiliki siswa, besar peranannya dalam proses belajar. Pengalaman dan pengertian itu menjadi dasar untuk menerima pengalaman-pengalaman baru dan pengertian-pengertian baru.
7) Faktor kesiapan belajar, siswa yang telah siap belajar akan dapat melakukan kegiatan belajar lebih mudah dan lebih berhasil. Faktor kesiapan ini erat hubungannya dengan masalah kematangan, minat, kebutuhan, dan tugas-tugas perkembangan.
8) Faktor minat dan usaha, belajar dengan minat akan mendorong
siswa belajar lebih baik daripada yang tanpa minat. Namun demikian, minat tanpa adanya usaha yang baik maka belajar sulit untuk berhasil.
9) Faktor-faktor fisiologis, kondisi fisik siswa yang belajar akan
sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar.
10) Faktor intelegensi, siswa yang cerdas akan lebih berhasil dalam
kegiatan belajar, karena ia akan lebih mudah menangkap dan memahami
pelajaran dan lebih mudah mengingat-ingatnya.
d. Proses Belajar
Proses belajar adalah perubahan di dalam diri siswa yang terjadi sebagai akibat pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungannya. Syah (dalam Setiani,2008:12), menyatakan bahwa “proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik yang terjadi dalam diri siswa”. Perubahan tersebut bersifat pasif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju dari pada keadaan yang sebelumnya. Pandangan bahwa hubungan proses belajar mengajar yaitu timbal balik antara guru dengan siswa dan antara siswa sendiri. Guru menyampaikan materi pelajaran dengan berbagai teknik dan metode yang tpat, siswa menerima informasi sebagai stimulus dan melakukan respon terhadapnya, sehingga menimbulkan pemahaman dan perilaku baru. Selain itu siswa harus mengikuti secara aktif kegiatan belajar mengajar untuk mengembangkan kemampuan, mengamati, menginterpretasikan,menggeneralisasikan materi hasil penerimaannya.
Oleh karena itu tugas guru ialah harus bisa mengelola faktor variabel-
variabel yang mendukung proses belajar mengajar, kegiatan belajar itu merupakan aktivitas yang berproses, sudah tentu di dalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap. Perubahan-perubahan tersebut timbul melalui fase-fase yang satu dengan yang lainnya bertalian secara berurutan dan fungsional. Menurut Bruner (dalam Setiani, 2008:14) menyatakan “ ... dalam proses pembelajaran siswa menempuh tiga fase sebagai berikut a). Fase informasi b). Fase transformasi c). Fase evaluasi (tahap penilaian materi)”.
e. Model Pembelajaran
Menurut R. Widodo (2009) model pembelajaran dapat diartikan sebagai “Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar”. Sedangkan menurut A. Suyitno (dalam Hernawati, 2007:22) “Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien”.
Model pembelajaran mempunyai makna yang berbeda dari pada pendekatan,
strategi, metode, maupun teknik pembelajaran. Menurut A. Sudrajat (2008)
dalam artikelnya yang berjudul ‘Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran’ menyatakan bahwa:Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut
pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Sedangkan strategi pembelajaran pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Menurut Kemp (dalam Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Lalu, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Kemudian Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Menurut Nn (2008) Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode pembelajaran, yaitu :
1) Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik.
2) Tujuan pembelajaran yang akan dicapai
3) Langkah-langkah mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal.
4) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.
Dalam pelaksanaannya di lapangan, model pembelajaran banyak jenisnya beberapa diantaranya adalah model pembelajaran berbasis TIK, model pembelajaran berbasis pemecahan masalah, dan model yang lainnya. Masing-masing model pembelajaran tersebut tentu saja memiliki kelebihan sekaligus kelemahan masing-masing. Oleh karena itu, hal tersebut dapat diatasi dengan cara menerapkan model-model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan, maka dengan demikian pencapaian tujuan pembelajaran pun diharapkan dapat diperoleh secara maksimal.
B. Model Pembelajaran berbasis TIK
a. Hakikat dan Pengertian Model TIK
Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam rentang waktu yang sangat signifikan telah menjadi salah satu fondasi pembangunan bagi masyarakat modern. Sebagian negara saat ini menganggap pemahaman
tentang TIK dan penguasaan keahlian-keahlian dasar dan konsep-konsep TIK
sebagai bagian dari jenjang pendidikan, bersama dengan membaca, menulis
dan berhitung.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah merambah ke berbagai
sektor bidang kehidupan, bukan saja bidang pendidikan akan tetapi hampir
semua aspek dalam kehidupan umat manusia yang bersifat multi
dimensional. Teknologi memberikan kemudahan, kebaikan, dan
mempercepat proses komunikasi yang lebih efektif serta efesien yang dapat
meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Manusia sebagai mahluk homo
sapiens dan sekaligus sebagai homo faber telah mengembangkan teknologi
yang menghasilkan berbagai keajaiban. Manusia disebut homo faber karena
ia mahluk yang suka membuat peralatan, sedangkan sebagai homo sapiens
karena ia selalu berpikir yang mencerminkan kaitan antara pengetahuan yang
bersifat teoritis dengan teknologi yang bersifat praktis. Pada dasarnya ilmu
merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala
alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk
menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada (Suriasumantri,
1999). Untuk mendefinisikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK)
terdapat dua istilah yang perlu diperhatikan, yaitu informatika (ilmu
komputer) dan teknologi informatika. Informatika merupakan sebuah ilmu
pengetahuan yang membahas tentang desain, realisasi, evaluasi dan
penggunaan, dan pemeliharaan
b. Pengertian TIK
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah merambah ke berbagai sektor bidang kehidupan, bukan saja bidang pendidikan akan tetapi hampir semua aspek dalam kehidupan umat manusia yang bersifat multi dimensional. Teknologi memberikan kemudahan, kebaikan, dan mempercepat proses komunikasi yang lebih efektif serta efesien yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Manusia sebagai mahluk homo sapiens dan sekaligus sebagai homo faber telah mengembangkan teknologi yang menghasilkan berbagai keajaiban. Manusia disebut homo faber karena ia mahluk yang suka membuat peralatan, sedangkan sebagai homo sapiens karena ia selalu berpikir yang mencerminkan kaitan antara pengetahuan yang bersifat teoritis dengan teknologi yang bersifat praktis. Pada dasarnya ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada (Suriasumantri, 1999). Model pembelajaran TIK adalah sebuah model dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan pembelajaran dengan bahan pembelajaran interaktif dengan media komputer.
c. Pembelajaran Berbasis TIK
Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional , pembelajaran interaktif dengan media computer memiliki beberapa keuntungan, misalnya penggunaan komputer yang tepat akan mampu meningkatkan kemampuan siswa, kecepatan siswa dalam menguasai konsep yang dipelajari, dan retensi (daya ingat) yang lebih lama.Komputer merupakan salah satu media audio visual yang mampu mengemas bahan ajar dalam sebuah rangkaian animasi gambar atau suara sehingga membuat kesan menarik bagi siswa. Seperti yang dinyatakan oleh Kusumah (2004:3), bahwa komputer dapat memberikan pelayanan secara repetitif, menampilkan sajian dalam format dan desain yang menarik, animasi gambar dan suara yang baik, serta melayani perbedaan individual. Pembelajaran berbasis komputer adalah salah satu strategi atau bentuk pembelajaran dengan menggunakan media komputer untuk menyampaikan seluruh atau sebagian dari isi kandungan mata pelajaran. Pembelajaran berbasis komputer ini diperlihatkan dalam suatu tampilan yang menjadikan aktivitas pembelajaran menjadi lebih menarik dan berkesan. Pembelajaran ini akan memberikan nuansa baru yang mampu membangkitkan motivasi dan kreativitas siswa sehingga menuntut siswa terlibat aktif dan partisipatif dalam proses pembelajarannya.Dalam pelaksanaannya, teknik penggunaan dan pemanfaatan media turut memberikan andil yang besar dalam menarik perhatian siswa dalam PBM, karena pada dasarnya media mempunyai dua fungsi utama, yaitu media sebagai alat bantu dan media sebagai sumber belajar bagi mahasiswa (Djamarah, 2002;
137). Umar Hamalik (1986), Djamarah (2002) dan Sadiman, dkk (1986), mengelompokkan media ini berdasarkan jenisnya ke dalam beberapa jenis :
a) Media auditif, yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan
suara saja, seperti taperecorder.
b) Media visual, yaitu media yang hanya mengandalkan indra
penglihatan dalam wujud visual.
c) Media audiovisual, yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, dan media ini dibagi ke dalam dua jenis audiovisual diam, yang menampilkan suara dan visual diam, seperti film sound slide. Audiovisual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak, seperti film, video cassete dan VCD.
d. Fungsi TIK dalam Pembelajaran
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam hal internet
sudah sedemikian pesatnya. Penggunaan internet tidak hanya terbatas pada
kegiatan bisnis semata, namun pada saat ini kegunaan internet juga dapat
digunakan untuk pembelajaran. Teknologi Informasi dan Komunikasi
memilliki tiga fungsi utama yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran,
yaitu (1) teknologi berfungsi sebagai alat (tools), untuk membantu
pembelajaran, misalnya dalam mengolah kata, 2) Teknologi berfungsi sebagai
ilmu pengetahuan (science), (3) Teknologi berfungsi sebagai bahan dan alat
bantu untuk pembelajaran (literacy). Dalam hal ini teknologi dimaknai sebagai
bahan pembelajaran sekaligus sebagai alat bantu untuk menguasai sebuah
17
kompetensi berbantuan komputer. Dalam hal ini posisi teknologi tidak ubahnya
sebagai guru yang berfungsi sebagai: fasilitator, motivator, transmitter, dan
evaluator. Sebagai bagian dari pembelajaran, teknologi/TIK memiliki tiga
kedudukan, yaitu sebagai suplemen, komplemen, dan substitusi (Riyana,
2008). Dikatakan berfungsi sebagai suplemen (tambahan), apabila peserta didik
mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi
pembelajaran melalui TIK atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada
kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran
melalui TIK. Sekalipun sifatnya hanya opsional, peserta didik yang
memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.
Walaupun materi pembelajaran melalui TIK berperan sebagai suplemen, para
guru tentunya akan senantiasa mendorong, mengggugah, atau menganjurkan
para peserta didiknya untuk mengakses materi pembelajaran melalui TIK yang
telah disediakan. Dikatakan berungsi sebagai komplemen (pelengkap), apabila
materi pembelajaran melalui TIK diprogramkan untuk melengkapi materi
pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas. Sebagai komplemen
berarti materi pembelajaran melalui TIK diprogramkan untuk menjadi materi
reinforcement (pengayaan) yang bersifat enrichment atau remedial bagi peserta
didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. Beberapa
perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif model
kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswanya. Tujuannya
adalah untuk membantu mempermudah para siswa mengelola kegiatan
pembelajaran sehingga para mahasiswa dapat menyesuaikan waktu dan
aktivitas lainnya dengan kegiatan pembelajaran.
e. Keunggulan dan kelemahan TIK
a) Keuntungan bagi siswa:
(1). Interaksi siswa dengan guru bisa dilakukan melalui e-mail
(2). Interaksi siswa dengan siswa bisa dilakukan melalui milis
(3). Interaksi siswa dan siswa dengan guru bersama-sama
18
(4). Interaksi siswa dengan pelajaran akan lebih dekat
(5). Mendapat sumber belajar alternatif yang tersedia secara luas.
b) Keuntungan bagi guru:
(1). Efisien dan efektif
(2). Memperkecil kesalahan persepsi
(3). Mengatasi masalah kekurangan alat
(4). Mengembangkan kompetensi guru di bidang TIK.
(5). Mengembangkan TIK dengan belajar mandiri, berinisiatif, kreatif
dan inovatif.
(6). Berkomunikasi dengan sesama guru secara nasional maupun
internasional
(7). Memperoleh materi ajar secara cepat dan murah berbasis TIK
c) Kelemahan pemanfaatan TIK:
(1). Penggunaan internet memerlukan infrastruktur yang memadai.
(2). Penggunaan internet mahal
(3). Komunikasi melalui internet sering kali lamban.
4. Pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran
Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran tidak hanya terbatas dalam
pengunaannya sebagi alat bantu dalam mengajar di kelas tetapi juga dapat
dimanfaatkan untuk pengerjaan tugas-tugas siswa. Guru dapat memnfaatkan
teknologi tersebut untuk memberikan tugas kepada siswa melalui email dan
pengumpulan tugas siswa juga dapat dilakukan melalui email. Dengan
menerapkan metode tersebut diharapkan efektifitas dan efesiensi pengajaran
19
dapat ditingkatkan. Artinya, keterbatasan ruang dan waktu dapat teratasi karena
siswa dapat mengupulkan tugasnya atau guru dapat memberikan tugas tanpa
terhalang oleh keterbatasan ruang dan waktu. Selain itu, penerapan TIK dalam
pembelajaran biologi juga dapat dilakukan dalam bentuk e-learning. Hal ini
dimaksudkan agar pembelajaran yang ada tidak selalu menggunakan buku–
buku saja akan tetapi juga menggunakan dan memanfaatkan perkembangan
teknologi, yaitu internet.
Salah satu cotoh bahan ajar TIK adalah :
a) Microsoft Powerpoint
Microsoft Powerpoint merupakan aplikasi yang disiapkan oleh
Microsoft Corporation untuk melakukan presentasi di depan publik yang
terbatas. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur-fitur dan menu yang lengkap
sehingga sebuah presentasi dapat dibuat semenarik dan seatraktif mungkin.
Dalam prakteknya di kelas, pemanfaatan aplikasi powerpoint
membutuhkan dukungan perangkat keras (hardware) yaitu satu unit komputer
portable yaitu laptop dan in-focus yang berfungsi sebagai wide-screen
Dengan tersedianya aplikasi ini di pasaran, guru dapat memanfaatkan aplikasi
powerpoint untuk kepentingan presentasi di kelas.
Kegiatan pembelajaran akan sangat menarik dan menyenangkan di
mata siswa, karena guru dalam presentasinya dapat menyisipkan suara
tertentu atau bahkan lagu, gambar lucu ataupun animasi yang menarik
sehingga siswa merasa senang dan tidak bosan di kelas. Dengan powerpoint
telah terjadi revolusi cara mengajar guru, jika selama ini kelas dianggap siswa
sebagai “penjara”, maka setelah guru menggunakan powerpoint, kelas
berubah menjadi “kelas” yang menyenangkan di mana di dalamnya terjadi
kegiatan pembelajaran.
Pemanfaatan aplikasi powerpoint sebagai technology based education
dan multimedia learning secara bertahap sejatinya mulai diterapkan oleh guru
dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Powerpoint sebagai software
presentasi ternyata sangat membantu guru dalam memancing minat dan
20
motivasi siswa untuk belajar. Di samping itu, suasana kelas menjadi aktif dan
siswa merasa senang dengan presentasi yang ditampilkan guru. Dengan
powerpoint guru menjadi leluasa untuk berimprovisasi merencanakan
pembelajaran yang atraktif karena fasilitas yang ada pada aplikasi powerpoint
sangat lengkap untuk membuat presentasi yang tidak membosankan. Di
samping itu, guru memiliki banyak pilihan menampilkan kegiatan
pembelajaran sekreatif mungkin untuk kepentingan belajar siswa.
Di antara fitur yang tersedia dalam microsoft powerpoint yang dapat
digunakan oleh guru dalam membuat presentasi pembelajaran adalah:
(1). Variasi background
(2). Variasi teks, warna dan grafik
(3). Menggabungkan file;
(4). Hyperlink
(5). Navigasi
(6). Insert pTIKure, video dan audio
(7). Variasi animasi
(8). Insert flash.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan ketika akan membuat
presentasi pembelajaran dengan menggunakan microsoft powerpoint adalah:
(1). Aspek Pembelajaran:
(a). Substansi materi harus sesuai dengan konsep dan teori yang benar.
(b). Pemilihan topik harus sesuai dengan kurikulum
(c). Adanya konsistensi antara materi dan tujuan pembelajaran.
(d). Aktualitas (sesuai dengan perkembangan mutakhir).
(e). Adanya kejelasan pesan yang membantu mempermudah
21
memahami konsep dan memperjelas pemahaman.
(f). Pemberian contoh untuk membantu penjelasan
(g). Pemilihan KD yang divisualkan terutama yang bersipat verbal.
(2). Aspek Teknis:
(a). Suara (audio) digunakan untuk memperjelas konsep dan
mencairkan suasana kelas.
(b). Tampilan layar presentasi seperti warna dan tata letak harus
memperjelas ilustrasi.
(c). Teks harus memperhatikan jenis font, ukuran dan warna.
(d). Movie dan animasi untuk memperjelas pesan.
(e). Navigasi perlu memperhatikan penempatan navigasi dan
bentuknya yang mudah menarik perhatian.
(f). Efisiensi dengan memperhatikan waktu, tenaga dan biaya.
b) E-learning
Jaya Kumar C. Koran (2002), mendefinisikan e-learning sebagai
sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian
elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran,
interaksi, atau bimbingan. Ada pula yang menafsirkan e-learning sebagai
bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet.
Sedangkan Dong (dalam Kamarga, 2002) mendefinisikan e-learning sebagai
kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang
memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Atau e-learning
didefinisikan sebagai berikut: e-Learning is a generic term for all
technologically supported learning using an array of teaching and learning
phone bridging, audio and videotapes, teleconferencing, satellite
transmissions, and the more recognized web-based training or computer aided
22
instruction also commonly referred to as online courses (Soekartawi, Haryono
dan Librero, 2002).
Rosenberg (2001) menekankan bahwa e-learning merujuk pada
penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang
dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan
Cambell (2002), Kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan
internet dalam pendidikan sebagai hakekat e-learning. Bahkan Onno W. Purbo
(2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari elektronik dalam e-
learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan
untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet.
Internet, Intranet, satelit, tape audio/video, TV interaktif dan CD-ROM adalah
sebagian dari media elektronik yang digunakan Pengajaran boleh disampaikan
secara ‘synchronously’ (pada waktu yang sama) ataupun ‘asynchronously’
(pada waktu yang berbeda). Materi pengajaran dan pembelajaran yang
disampaikan melalui media ini mempunyai teks, grafik, animasi, simulasi,
audio dan video. Ia juga harus menyediakan kemudahan untuk ‘discussion
group’ dengan bantuan profesional dalam bidangnya.
Ada 3 (tiga) fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan
pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu sebagai suplemen
yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti
(substitusi).(Siahaan, 2002).
a.
Suplemen
Dikatakan berfungsi sebagai supplemen (tambahan), apabila peserta didik
mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi
pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada
kewajiban/keharusan bagi pesertadidik untuk mengakses materi
pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang
memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau
wawasan.
b.
Komplemen (tambahan)
23
Dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) apabila materi
pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi
pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas (Lewis, 2002). Sebagai
komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk
menjadi materi reinforcement (pengayaan) atau remedial bagi peserta didik
di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. Materi
pembelajaran elektronik dikatakan sebagai enrichment, apabila kepada
peserta didik yang dapat dengan cepat menguasai/memahami materi
pelajaran yang disampaikan guru secara tatap muka (fast learners) diberikan
kesempatan untuk mengakses materi pembelajaran elektronik yang memang
secara khusus dikembangkan untuk mereka. Tujuannya agar semakin
memantapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran
yang disajikan guru di dalam kelas. Dikatakan sebagai program remedial,
apabila kepada peserta didik yangmengalami kesulitan memahami materi
pelajaran yang disajikan guru secara tatapmuka di kelas (slow learners)
diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi pembelajaran elektronik
yang memang secara khusus dirancang untuk mereka.
Tujuannya agar peserta didik semakin lebih mudah memahami materi
pelajaran yang disajikan guru di kelas.
c.
Substitusi (pengganti)
Beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa
alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para
mahasiswanya.Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel
mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain
sehari-harin siswa.
E-learning juga membeerikan manfaat yang bersar dalam proses
pembelajaran. Menurut A. W. Bates (Bates, 1995) dan K. Wulf (Wulf,
1996) manfaat Pembelajaran elektronik Learning (e-Learning) itu terdiri
atas 4 hal, yaitu:
1) Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik
24
dengan guru atau instruktur (enhance interactivity). Apabila dirancang
secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi
pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara
sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar
(enhance interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat
konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran
konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk
mengajukanpertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam
diskusi. Hal ini disebabkan karena pada pembelajaran yang bersifat
konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan
dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas.
2) Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan
kapan saja (time and place flexibility). Mengingat sumber belajar yang
sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta
didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan
sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja (Dowling, 2002).
Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan
kepada guru begitu selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada
janji untuk bertemu dengan guru.
3) Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to
reach aglobal audience). Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka
jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran
elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat sert waktu
tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja,
seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui
internet. Kesempatan belajar benar-benarterbuka lebar bagi siapa saja yang
membutuhkan.
4) Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi
pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).
25
Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat
lunak (software) yang terus berkembang turut membantu mempermudah
pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan
penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan
perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan
mudah. Di samping itu,penyempurnaan metode penyajian materi
pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik
dari peserta didik maupun atas hasil penilaian guru selaku penanggungjawab
atau pembina materi pembelajaran itu sendiri.
5. Langkah-langkah pembelajaran TIK
a) Siswa ditugasi untuk menjelajahi internet dan berbagai situs yang
tersedia sebanyak mungkin untuk mencari, menemukan, dan mengunduh
pelajaran yang akan dicapai.
b) Guru mempersiapkan bahan ajar berbasis TIK dalam pembelajaran.
c) Siswa berinteraksi dengan guru tentang yang disampaikan guru.
d) Siswa diberi tugas dan siswa mengirimkan tugas tersebut melalui
e-mail.
e) Untuk setiap tugas, siswa diminta memberikan komentar terhadap
pekerjaan siswa yang lain.
f) Guru memberikan kesimpulan.
6. Model Pembelajaran Konvensional
Menurut Djamarah (dalam Ariyanti, 2010 : 13) “ metode pembelajaran
konvensional adalah metode pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan
metode ceramah, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat
26
komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar dan
pembelajaran dalam pembelajaran konvensional ditandai dengan ceramah yang
diiringi dengan penjelasan, serta pembagian tugas dan latihan “.
Menurut Subiyanto (dalam Siska, 2008 : 16), bahwa pembelajaran
konvensional mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
a. Peserta didik tidak mengetahui apa tujuan mereka belajar pada hari
itu
b. Guru biasanya mengajar dengan berpedoman pada buku
c. Tes atau evaluasi biasanya bersifat sumatif dengan maksud untuk
mengetahui perkembangan siswa
d. Siswa harus mengikuti cara belajar yang dipilih oleh guru dengan
patuh mempelajari urutan yang diterapkan dan kurang sekali mendapatkan
kesempatan untuk menyatakan pendapatnya.
Pembelajaran konvensional cenderung mengakibatkan siswa menjadi
pasif karena siswa hanya menerima semua materi yang dijelaskan oleh guru.
Semua kegiatan didominasi oleh guru, sehingga siswa kurang aktif dalam
kegiatan pembelajaran.
7. Prestasi Belajar
a.
Pengertian Prestasi Belajar
Jika kita membicarakan mengenai belajar, tentu saja kita tidak akan
terlepas dari bagaimana hasil belajar itu sendiri, dan jika kita membicarakan
mengenai hasil belajar maka kita tidak akan pula terlepas dari membicarakan
bagaimana prestasi belajar. Apalagi jika hal ini dibahas dalam konteks belajar
di lingkungan pendidikan terutama di sekolah.
Untuk mengetahui hasil belajar para peserta didiknya, maka guru akan
mengukur hasil belajar para peserta didiknya tersebut dengan melakukan
penilaian terhadap hasil belajar mereka misalnya melalui tes, dapat berupa tes
27
pada setiap akhir pembelajaran, setelah selesai membahas satu pokok bahasan
atau bab, atau pula dapat berupa tes pada setiap akhir semester atau yang lebih
dikenal dengan sebutan Ujian Akhir Semester (UAS). Kemudian setelah
penilaian terhadap hasil belajar ini selesai barulah dapat dilihat sejauh mana
prestasi para peserta didik tersebut. Bagaimana pula prestasi belajar para
peserta didik ini jika dibandingkan dengan peserta didik yang lain.
“Istilah prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu dari kata “prestatie”,
dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha” (A.
Muhamad : 2008). Kemudian M. Syah (dalam A. Muhamad:2008) menjelaskan
bahwa ‘Prestasi belajar merupakan taraf keberhasilan murid atau santri dalam
mempelajari materi pelajaran di sekolah atau pondok pesantren dinyatakan
dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi
pelajaran tertentu.’ Sedangkan menurut A. Muhamad (2008):
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dari suatu kegiatan atau
usaha yang dapat memberikan kepuasan emosional, dan dapat diukur
dengan alat atau tes tertentu. Dalam proses pendidikan prestasi dapat
diartikan sebagai hasil dari proses belajar mengajar yakni, penguasaan,
perubahan emosional, atau perubahan tingkah laku yang dapat diukur
dengan tes tertentu.
b. Jenis Jenis Prestasi Belajar
Menurut Taksonomi Blood dalam Sa’diyah (1992: 82-90), terdapat tiga
domain pengembangan individu dalam proses belajar untuk mendapatkan
perubahan dan pengembangan potensi diri yang dimiliki sehingga dapat
diperoleh karakter yang dikehendaki. Ketiga domain itu adalah penetahuan
(kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor).
a. Wilayah pengembangan intelektual (kognitif) meliputi aspek-aspek sebagai
berikut.
1) Ilmu pengetahuan (pengenalan, perseptual, dan hapalan), yang
meliputi pengetahuan tentang terminologi, ukuran fakta, kebiasaan,
28
penggolongan jenis, metodologi, azas, dan kelaziman, serta teori dalam
bentuk kemampuan menunjukan kembali.
2) Pengertian (pemahaman) yang meliputi terjemahan, penafsiran,
dan ekstrapolation dalam bentuk kemampuan menjelaskan, menafsirkan,
dan dapat mendefinisikan dengan bahasa sendiri.
3) Aplikasi (penerapan) dalam bentuk kemampuan memberikan
contoh, menggunakan dengan tepat, dan memecahkan masalah.
4) Analisis, meliputi analisis unsur, analisis hubungan, dan analisis
prinsip-prinsip, dalam bentuk kemampuan menguraikan, menghubungkan
menyimpilkan dan mengklasifikasikan.
5) Sintesis (membuat perpaduan) meliputi hasil komunikasi tunggal,
hasil atau rencana, hasil dari hubungan yang abstrak, dalam bentuk
kemampuan menghubungkan, menyimpulkan, dan menggeneralisasikan.
6) Evaluasi/ kesimpulan meliputi pembuktian dari dalam luar, dalam
bentuk menafsirkan, memberi kritik dan memberikan pertimbangan dan
penilaian.
Kelima aspek di atas merupakan fokus penelitian ini, walaupun penelitian
tentang prestasi peserta didik ini berfokus pada domain kognitif saja atau bidang
akademik siswa, penulis juga akan mengulas sedikit domain yang lain walaupun
tidak diteliti dalam penelitian ini.
b. Wilayah Pengambangan sikap (afektif) mencakup aspek-aspek sebagai
berikut.
1) Receiving (penerimaan) yang meliputi kesadaran, kerelaan menerima, dan
mengontrol perhatian yang terpilih, dalam bentuk kemampuan
menunjukkan sikap meneerima atau menolak.
2) Responding (reaksi jawaban) yang meliputi menyerahkan dalam jawaban,
kerelaan untuk menjawab, kepuasan dan tanggapan, dalam bentuk
kemampuan kesediaan terlibat, berperan serta, memanfaatkan atau
meninggalkan.
3) Valuing (penilaian) meliputi penerimaan suatu nilai, kecondongan untuk
29
suatu nilai, kepercayaan akan hal-hal tertentu, dalam bentuk kemampuan
memandang penting, bermanfaat, indah dan harmonis.
4) Internalisasi (pendalaman) meliputi pemberian makna atau paham suatu
nilai, organisasi sistem penilaian, dalam bentuk kemampuan meyakini,
mengakui, dan mengingkari.
5) Karakterisasi (penghayatan) nilai, lukisan yang sesuai dengan sifat, dalam
bentuk kemampuan melembagakan atau meniadakan, meniadakan dalam
pribadi atau tingkah laku sehari-hari.
c. Wilayah Pengembangan psikomotor (keterampilan), yang mencakup aspek-
aspek berikut:
1) Imitation (peniruan), meliputi dorongan hari dan pengulangan terang-
terangan.
2) Manipulation (memperbanyak) meliputi mengikuti secara langsung,
pemilihan, dan pendekatan.
3) Precision (ketelitian), memproduksi kembali dan memeriksa
4) Artixulation (pengucapan dengan nyata sesuai dengan apa adanya),
meliputi mengurutkan dan menyelaraskan.
5) Naturalization (mengalamikan), meliputi otomatisasi dan menghias
interior.
Berdasarkan banyak wilayah pengembangan dalam proses belajar
menurut Bloom di atas, maka prestasi belajar digolongkan dalam tiga jenis,
yaitu:
1) Prestasi Kognitif, yang meliputi kemampuan pengetahuan, pengertian
aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
2) Prestasi afektif, yane meliputi kemampuan receiving, responding, valuing,
internalisasi, dan karakterisasi.
3) Prestasi psikomotor, yang meliputi imitation, manipulation, precision,
artixulation, naturalization.
30
8. Indikator Prestasi Belajar
Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dari data hasil belajar siswa
sebagaimana terurai di atas, adalah mengetahui garis-garis besar indikator
dikaitkan jenis prestasi yang hendak diungkap atau diukur.
Adapun yang menjadi indikator prestasi menurut taksonomi Bloom
(Winkel:1996:245-247) sebagai barikut.
a. Pengetahuan (knowledge), mengacu pada kemampuan mengenal, atau
mengingat materi yang sudah dipelajari dari yang sedarhana sampai pada
teori yang sukar. Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan
dengan baik dan banar.
b. Pemahaman, mengacu kepada kemampuan memahami makna materi.
c. Penerapan, mengacu pada kemampuan menggunakan atau menerapkan
materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut
penggunaan aturan.
d. Analisis, mengacu pada kemampuan menguraikan materi kedalaman
komponen-komponen atau faktor penyebabnya dan mampu memahami
hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya, sehingga struktur
dan aturannya dapat lebih dimengerti.
e. Sintesis, mengacu pada kemampuan memadukan atau komponen-komponen
sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru.
f. Evaluasi, mengacu pada kemampuan memberikan pertimbangan terhadap
nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu.
9. Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Muhibin Syah, 1995:132), faktor yang mempengaruhi belajar siswa
diantaranya :
31
a. Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa), yakni jasmani dan rohani
siswa.
b. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di
sekitar siswa.
c. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar
siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa.
10. Pengertian Media
Media merupakan alat yang harus ada apabila kita ingin memudahkan
sesuatu dalam pekerjaan. Media merupakan alat Bantu yang dapat
memudahkan pekerjaan. Setiap orang pasti ingin pekerjaan yang dibuatnya
dapat diselesaikan dengan baik dan dengan hasil yang memuaskan.
Kata media itu sendiri berasal dari bahasa latin yang merupakan
bentuk jamak dari kata “ medium “ yang berarti “ pengantar atau perantara “,
dengna demikian dapat diartikan bahwa media merupakan wahana penyalur
informasi belajar atau penyalur pesan.
Kit Lay Bourne ( 1985 : 82 ) menyatakan bahwa “ penggunaan media
tidak harus membawa bungkusan berita-berita semua, siswa cukup dapat
mengawasi suatu berita.” Dari pendapat tersebut dapat dihubungkan bahwa
penyampaian materi pelajaran dengan cara komunikasi masih dirasakan
adanya penyimpangan pemahaman oleh siswa. Masalahnya adalah bahwa
siswa terlalu banyak menerima sesuatu ilmu dengan verbalisme. Apalagi
dalam proses belajar mengajar yang tidak menggunakan media dimana
kondisi siswa tidak siap, akan memperbesar pekuang terjadinya verbalisme.
Media yang difungsikan sebagai sumber belajar bila dilihat dari
pengertian harfiahnya juga terdapat manusia didalamnya, benda, ataupun
segala sesuatu yang memungkinkan untuk anak didik memperoleh informasi
dan pengetahuan yang berguna bagi anak didik dalam pembelajaran, dan
bagaimana dengan adanya media berbasis TIK tersebut, khususnya
menggunakan presntasi power point dimana anak didik mempunyai keinginan
untuk maju, dan juga mempunyai kreatifitas yang tinggi dan memuaskan
dalam perkembangan mereka di kehidupan kelak.
32
Sasaran penggunaan media adalah agar anak didik mampu
mencipatakan sesuatu yang baru dan mampu memanfaatkan sesuatu yang
telah ada untuk dipergunakan dengan bentuk dan variasi lain yang berguna
dalam kehidupannya,. Dengan demikian mereka dengan mudah mengerti dan
mamahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru kepada mereka.
Arief S. Sadiman ( 1984:6 ) mengatakan bahwa media “ adalah segala
alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar
seperti film, buku dan kaset “. RE Clark ( 1996 : 62 ) mengungkapkan bahwa
“ the of of media to encourage student to invest more afford in hearing has
along history “.
Dari pandangan yang ada di atas dapat dikatakan bahwa media
merupakan alat yang memungkinakn anak muda untuk mengerti dan
memahami sesuatu dengan mudah dan dapat untuk mengingatnya dalam
waktu yang lama dibangdingkan dengan penyampaian materi pelajaran
dengan cara tatap muka dan ceramah tanpa alat bantuan.
Bertitik tolak dari pendapat tersebut, jelaslah bahwa memilih media
tidak mudah. Media yang akan digunakan harus memperhatikan beberapa
ketentuan dengan pertimbangan bahwa penggunaan media harus benar-benar
berhasil guna dan berdaya guna untuk meningkatkan dan memperjelas
pemahaman siswa.
11. Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi
dan Penggunaannya
Penggunaan media pembelajaran yang berbasis TIK merupakan hal
yang tidak mudah. Dalam menggunakan media tersebut harus memperhatikan
beberapa teknik agar media yang dipergunakan itu dapat dimanfaatkan
dengan maksimal dan tidak menyimpang dari tujuan media tersebut, dalam
hal ini media yang digunakan adalah Komputer dan LCD Proyektor. Arief S.
Sadiman ( 1996 : 83 ) mengatakan bahwa :
Ditinjau dari kesiapan pengadaannya, media dikelompokkan dalam
dua jenis, yaitu media jadi karena merupakan komoditi perdagangan yang
terdapat di pasaran luas dalam keadaan siap pakai ( media by utilization ) dan
33
media rancangan yang perlu dirancang dan dipersiapkan secara khusus untuk
maksud dan tujuan pembelajaran tertentu.
Dari pernyataan tersebut di atas dapat dikategorikan bahwa media
Komputer dan LCD Proyektor meupakan media rancangan yang mana di
dalam penggunaannya sangat diperlukan perancangan khusus dan didesain
sedemikian rupa agar dapat dimanfaatkan. Perangkat keras (hard ware) yang
difungsikan dalam menginspirasikan media tersebut adalah menggunakan
satu unit computer lengkap yang sudah terkoneksikan dengan LCD
Proyektor. Dengan demikian media ini hendaknya menarik perhatian siswa
dalam proses pembelajaran khususnya IPA.
12. Pengkajian hasil Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh saudara
Herman Dwisurjono dan Abdul Gafur tentang pemanfaatan TIK untuk
peningkatan mutu pembelajaran SMA menunjukan bahwa responden
termasuk baik atau tinggi. Dengan kata lain, potensi untuk
mengimplementasikan TIK di SMA termasuk tinggi karena didukung oleh
SDM yang memiliki kompetensi tinggi. Implementasi TIK pada umumnya
telah dilaksanakan secara sistematis dengan mengikuti model mulai dari
disain, pengembangan/produksi, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi.
Namun terdapat beberapa langkah pada masing-masing tahap yang belum
dilaksanakan secara jelas, misalnya pengembangan sistem pembelajaran yang
terintegrasi dengan TIK, pemanfaatan TIK sebagai suatu sistem, pengelolaan
sistem penyampaian, dan evaluasi fektifitas implementasi TIK secara
menyeuruh, juga masih memiliki beberapa hambatan.
13. Kerangka Pemikiran
34
Pemilihan dan penggunaan metode mengajar memiliki arti penting
untuk mencapai keberhasilan dalam pendidikan. Keberhasilan pendidikan
banyak ditentukan oleh pendidik dalam menggunakan model pembelajaran.
Adapun tujuan umum pembejalaran matematika adalah agar siswa
dapat memahami pelajaran matematika. Berdasarkan tujuan ini, maka
pendidik harus memiliki keahlian dalam menggunakan metode dan model
yang efektif dan efisien, agar bisa memberikan kecerahan berfikir bagi
peserta didik yang dapat menghasilkan hasil belajar yang baik bagi peserta
didik. Dan tentunya prestasi peserta didik tidak terlepas dari pengaruh
indikator, kurikulum, daya serap, presensi guru, presensi siswa, dan prestasi
belajar. Tentunya dengan mengikuti perkembangan teknologi.
Maka dari itu penulis menilai model pembelajaran berbasis TIK
berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Pembelajaran TIK adalah
pendekatan pembelajaran menggunakan bahan pembelajaran interaktif
dengan media komputer.
Tujuan dari pembelajaran adalah untuk mehghasilkan prestasi bagi
peserta didik, tentunya tidak akan lepas dari indikator-indikator prestasi
belajar, yang secara singkat menjadi kognitif, afektif, dan psikomotor.
Indikator-indikator tersebut berlaku untuk menentukan pengaruh
model pembelajaran berbasis TIK dalam pembelajaran matematika.
14. Hipotesis Kerja
Dari kerangka pemikiran di atas, maka hipotesis Kerja penelitian ini
adalah :
a. Prestasi belajar mata pelajaran IPA di kelas V SDN Rahayu dapat
ditingkatkan dengan menggunakan media pembelajaran berbasis TIK
melalui program Microsoft Power Point.
d. Tanggapan guru tentang media pembelajaran berbasis TIK dengan progam
Microsoft Power Point dalam kegiatan belajar mengajar positif.
35
e. Efektifitas pengggunaan media pembelajaran berbasis TIK progam Microsoft
Power Point dapat menumbuhkan minat belajar siswa.
E. Metodologi Penelitian
a. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian pengembangan, yang
dipakai untuk tujuan eksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali
informasi tentang penggunaan teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
progam Microsoft Power Point sebagai media pembelajaran inovatif.
b. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dan wilayah generalisasi penelitian ini adalah siswa kelas V
SDN Montong Sekar I Kecamatan Montong Kabupaten Tuban tahun
pelajaran 2011/2012. Populasi terdiri dari siswa putra 18 dan siswa putri 15
dengan jumlah seluruhnya 33 siswa. Sampel penelitian diambil secara total
sampling.
c. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
tes dan observasi.
d. Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul akan dianalisis secara deskriptif dengan tabulasi
dan persentase.
F. Alokasi Waktu
Tabel rencana waktu pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut :
No Kegiatan
Waktu
Okt
Nop
Des
Jan
Peb
Mar
3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1
Persiapan
Proposal
2
Bimbingan
Proposal
3
Seminar
Proposal
36
4
Persiapan
Penelitian
5 Penelitian
6
Pengumpula
n
Data
7
Pengolahan
Data
8
Analisis
Data
G. Daftar Pustaka
Ahmad dan Nana. (2009). Teknologi Pengajaran. Bandung : Sinar Baru
Algesindo
Andhika. (2005). Apa itu Internet ? (www.andhika.com). diambil 25 Februari
2006.
Arif A Mangkoesapoetro. (2004). Pemanfaatan Media Massa Sebagai Sumber
Pembelajaran IPS Di Tingkat Persekolahan.
(http://artikel.us/mangkoes6-04-2.html). diambil 27 Februari 2006.
Hamalik, O .(2005). Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara
Hamzah. (2007). Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Marsell Ruben Payong. (2005). Good Bye Teacher. (www.kompas.com).
diambil 24 Februari 2006.
Noni,N.Penerapan TIK dalam pembelajaran. [online].tersedia:
http://www.scribd.com/doc/32973174/
Pembelajaran - Berbasis - Ict .
Philip Rechdalle.(2005). Internet dan Pendidikan. (www.pendidikan.net).
Diambil 24 Februari 2006.
Rahadi, M. Evaluasi Proses Hasil Pembelajaran Matematika (PHPM).
Modul STKIP. Garut: tidak diterbitkan.
Rahadi, M. (2010). Penelitian Tindakan. Modul STKIP. Garut: tidak
diterbitkan.
Riduwan. (2002). Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Bandung:
CV Alfabeta
Rusli. (2009). Teknologi Komunikasi dan Informasi dalam Pendidikan.
Jakarta: Gaung Persada.
Sugiyono.(2008). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
Sundayana, R. (2010). Komputasi Data Statistik. Garut:STKIP.
Sundayana, R. (2002).. Garut: STKIP.
Surjono dan abdul. 2010. Potensi Pemanfaatan ICT Untuk Peningkatan Mutu
Pembelajaran Sma Di Kota Yogyakarta.[online].tersedia:
http://www.journal.uny.ac.id/index.php/cp/article/view/337/pdf
) Model pengembangan
Model Pengembangan merupakan dasar untuk
mengembangkan produk yang akan dihasilkan.
Model pengembangan dapat berupa model
prosedural, model konseptual, dan model teoritik.
Model prosedural adalah model yang bersifat
deskriptif, menunjukkan langkah-langkah yang
harus diikuti untuk menghasilkan produk. Model
konseptual adalah model yang bersifat analitis,
yang menyebutkan komponen-komponen produk,
menganalisis komponen secara rinci dan
menunjukkan hubungan antar komponen yang
akan dikembangkan. Model teoritik adalah model
yang menggambar kerangka berfikir yang
didasarkan pada teori-teori yang relevan dan
didukung oleh data empirik.
Dalam model pengembangan, peneliti
memperhatikan 3 hal:
a. Menggambarkan Struktur Model yang
digunakan secara singkat, sebagai dasar
pengembangan produk.
b. Apabila model yang digunakan diadaptasi dari
model yang sudah ada, maka perlu dijelaskan
alasan memilih model, komponen-komponen
yang disesuaikan, dan kekuatan serta
kelemahan model dibanding model aslinya.
c. Apabila model yang digunakan dikembangkan
sendiri, maka perlu dipaparkan mengenai
komponen-komponen dan kaitan antar
komponen yang terlibat dalam pengembangan
2) Prosedur penelitian pengembangan
Prosedur penelitian pengembangan akan
memaparkan prosedur yang ditempuh oleh
peneliti/pengembang dalam membuat produk.
Prosedur pengembangan berbeda dengan model
pengembangan dalam memaparkan komponen
rancangan produk yang dikembangkan. Dalam
prosedur, peneliti menyebutkan sifat-sifat komponen
pada setiap tahapan dalam pengembangan,
menjelaskan secara analitis fungsi komponen dalam
setiap tahapan pengembangan produk, dan
menjelaskan hubungan antar komponen dalam
sistem. Sebagai contoh Prosedur pengembangan
yang dilakukan Borg dan Gall (1983)
mengembangkan pembelajaran mini (mini course)
melalui 10 langkah:
2.1. Melakukan penelitian pendahuluan (prasurvei)
untuk mengumpulkan informasi (kajian
pustaka, pengamatan kelas), identifikasi
permasalahan yang dijumpai dalam
pembelajaran, dan merangkum permasalahan
2.2. Melakukan perencanaan (identifikasi dan
definisi keterampilan, perumusan tujuan,
penentuan urutan pembelajaran, dan uji ahli
atau ujicoba pada skala kecil, atau expert
judgement
2.3. Mengembangkan jenis/bentuk produk awal
meliputi: penyiapan materi pembelajaran,
penyusunan buku pegangan, dan perangkat
evaluasi.
2.4. Melakukan uji coba lapangan tahap awal,
dilakukan terhadap 2-3 sekolah menggunakan
6-10 subyek ahli. Pengumpulan informasi/data
dengan menggunakan observasi, wawancara,
dan kuesioner, dan dilanjutkan analisis data.
2.5. Melakukan revisi terhadap produk utama,
berdasarkan masukan dan saran-saran dari
hasil uji lapangan awa
Melakukan uji coba lapangan utama, dilakukan
terhadap 3-5 sekolah, dengan 30-80 subyek.
Tes/penilaian tentang prestasi belajar siswa
dilakukan sebelum dan sesudah proses
pembelajaran.
2.7. Melakukan revisi terhadap produk operasional,
berdasarkan masukan dan saran-saran hasil uji
lapangan utama.
2.8. Melakukan uji lapangan operasional (dilakukan
terhadap 10-30 sekolah, melibatkan 40-200
subyek), data dikumpulkan melalui wawancara,
observasi, dan kuesioner.
2.9. Melakukan refisi terhadap produk akhir,
berdasarkan saran dalam uji coba lapangan
2.10. Mendesiminasikan dan mengimplementasikan
produk, melaporkan dan menyebarluaskan
produk melalui pertemuan dan jurnal ilmiah,
bekerjasama dengan penerbit untuk sosialisasi
produk untuk komersial, dan memantau
distribusi dan kontrol kualitas.
Prosedur penelitian pengembangan menurut Borg dan
Gall, dapat dilakukan dengan lebih sederhana melibatkan
5 langkah utama:
1. Melakukan analisis produk yang akan
dikembangkan
2. Mengembangkan produk awal
3. Validasi ahli dan revisi
4. Ujicoba lapangan skala kecil dan revisi produk
5. Uji coba lapangan skala besar dan produk akhir
3). Uji Coba Model atau Produk
Uji coba model atau produk merupakan bagian yang
sangat penting dalam penelitian pengembangan, yang
dilakukan setelah rancangan produk selesai. Uji coba
model atau produk bertujuan untuk mengetahui
apakah produk yang dibuat layak digunakan atau
tidak. Uji coba model atau produk juga melihat sejauh
mana produk yang dibuat dapat mencapai sasaran
dan tujuan.
Model atau produk yang baik memenuhi 2 kriteria
yaitu : kriteria pembelajaran (instructional criteria) dan
kriteria penampilan (presentation criteria).
Ujicoba dilakukan 3 kali: (1) Uji-ahli (2) Uji terbatas
dilakukan terhadap kelompok kecil sebagai pengguna
produk; (3) Uji-lapangan (field Testing)
Dengan uji coba kualitas model atau produk yang
dikembangkan betul-betul teruji secara empiris.
1. Desain Uji Coba
Ada 3 tahapan dalam uji coba produk:
a. Uji ahli atau Validasi, dilakukan dengan
responden para ahli perancangan model atau
produk. Kegiatan ini dilakukan untuk mereview
produk awal, memberikan masukan untuk
perbaikan. Proses validasi ini disebut dengan
Expert Judgement atau Teknik Delph
b. Analisis konseptual
c. Revisi I
d. Uji Coba Kelompok Kecil, atau Uji terbatas
dilakukan terhadap kelompok kecil sebagai
pengguna produk.
e. Revisi II
f. Uji Coba Lapangan (field testing)
g. Telaah Uji Lapangan
h. Revisi III
i. Produk Akhir dan Diseminasi
2. Subyek Uji Coba.
Subyek uji coba atau sampel untuk uji coba, dilihat
dari jumlah dan cara memilih sampel perlu
dipaparkan secara jelas. Beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan dalam memilih sampel.
a. Penentuan sampel yang digunakan disesuaikan
dengan tujuan dan ruang lingkup dan tahapan
penelitian pengembangan.
b. Sampel hendaknya representatif, terkait dengan
jenis produk yang akan dikembangkan, terdiri
atas tenaga ahli dalam bidang studi, ahli
perancangan produk, dan sasaran pemakai
produk.
c. Jumlah sampel uji coba tergantung tahapan uji
coba tahap awal (preliminary field test)
3. Jenis Data
Dalam uji coba, data digunakan sebagai dasar
untuk menentukan keefektifan, efisiensi, dan daya
tarik produk yang dihasilkan. Jenis data yang akan
dikumpulkan harus disesuaikan dengan informasi
yang dibutuhkan tentang produk yang
dikembangkan dan tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai. Bisa terjadi data yang dikumpulkan hanya
data tentang pemecahan masalah yang terkait
dengan keefektifan dan efisiensi, atau data tentang
daya tarik produk yang dihasilkan.
Paparan data hendaknya dikaitkan dengan desain
penelitian dan subyek uji coba tertentu. Data
mengenai kecermatan isi dapat dilakukan terhadap
subyek ahli isi, kelompok kecil, atau ketiganya.
Dalam Uji Ahli, data yang terungkap antara lain
ketepatan substansi, ketepatan metode, ketapatan
desain produk, dsb.
4. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen
Dalam pengumpulan data dapat digunakan
berbagai teknik pengumpulan data atau
pengukuran yang disesuaikan dengan karakteristik
data yang akan dikumpulkan dan responden
penelitian.
a. Teknik pengumpulan data seperti observasi,
wawancara, dan kuesioner.
3. Jenis Data
Dalam uji coba, data digunakan sebagai dasar
untuk menentukan keefektifan, efisiensi, dan daya
tarik produk yang dihasilkan. Jenis data yang akan
dikumpulkan harus disesuaikan dengan informasi
yang dibutuhkan tentang produk yang
dikembangkan dan tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai. Bisa terjadi data yang dikumpulkan hanya
data tentang pemecahan masalah yang terkait
dengan keefektifan dan efisiensi, atau data tentang
daya tarik produk yang dihasilkan.
Paparan data hendaknya dikaitkan dengan desain
penelitian dan subyek uji coba tertentu. Data
mengenai kecermatan isi dapat dilakukan terhadap
subyek ahli isi, kelompok kecil, atau ketiganya.
Dalam Uji Ahli, data yang terungkap antara lain
ketepatan substansi, ketepatan metode, ketapatan
desain produk, dsb.
4. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen
Dalam pengumpulan data dapat digunakan
berbagai teknik pengumpulan data atau
pengukuran yang disesuaikan dengan karakteristik
data yang akan dikumpulkan dan responden
penelitian.
a. Teknik pengumpulan data seperti observasi,
wawancara, dan kuesioner.
engan permasalahan yang diajukan, dan
produk yang akan dikembangkan.
f. Laporan atau sajian harus diramu dalam
format yang tepat sedemikian rupa dan
disesuaikan dengan konsumen, atau calon
pemakai produk.
6. Penyajian Hasil Pengembangan
Penyajian data hasil uji coba hendaknya
komunikatif, sesuai dengan jenis dan karakteristik
produk dan calon konsumen pemakai produk.
Penyajian yang komunikatif akan membantu
konsumen/ pengguna produk dalam mencerna
informasi yang disajikan, dan menumbuhkan
ketertarikan untuk menggunakan model atau
produk hasil pengembangan
7. Revisi produk
a. Simpulan yang ditarik dari hasil analisis
data uji coba menjelaskan produk yang
diujicobakan sebagai dasar pengam-bilan
keputusan apakah model atau produk yang
dihasilkan perlu direvisi atau tidak.
b. Pengampilan keputusan untuk mengadakan
revisi model atau produk perlu disertai
dengan dukungan/ pembenaran bahwa
setelah direvisi model atau produk itu akan
lebih baik, lebih efektif, efisien, lebih
menraik, dan lebih mudah bagi pemakai.
c. Komponen-komponen yang perlu dan akan
direvisi hendaknya dikemukakan secara
jelas dan rinci.
8. Expert Judgement
Expert Judgement atau Pertimbangan Ahli dilakukan
melalui: (1) Diskusi Kelompok (group discussion), dan
(2) Teknik Delphi.
1. Group discussion, adalah sutau proses diskusi
yang melibatkan para pakar (ahli) untuk
mengidentifikasi masalah analisis penyebab
masalah, menentukan cara-cara penyelesaian
masalah, dan mengusulkan berbagai alternatif
pemecahan masalah dengan mempertimbangkan
sumber daya yang tersedia. Dalam diskusi 7. Revisi produk
a. Simpulan yang ditarik dari hasil analisis
data uji coba menjelaskan produk yang
diujicobakan sebagai dasar pengam-bilan
keputusan apakah model atau produk yang
dihasilkan perlu direvisi atau tidak.
b. Pengampilan keputusan untuk mengadakan
revisi model atau produk perlu disertai
dengan dukungan/ pembenaran bahwa
setelah direvisi model atau produk itu akan
lebih baik, lebih efektif, efisien, lebih
menraik, dan lebih mudah bagi pemakai.
c. Komponen-komponen yang perlu dan akan
direvisi hendaknya dikemukakan secara
jelas dan rinci.
8. Expert Judgement
Expert Judgement atau Pertimbangan Ahli dilakukan
melalui: (1) Diskusi Kelompok (group discussion), dan
(2) Teknik Delphi.
1. Group discussion, adalah sutau proses diskusi
yang melibatkan para pakar (ahli) untuk
mengidentifikasi masalah analisis penyebab
masalah, menentukan cara-cara penyelesaian
masalah, dan mengusulkan berbagai alternatif
pemecahan masalah dengan mempertimbangkan
sumber daya yang tersedia. Dalam diskusi Pertanyaan dalam bentuk open-ended
question, kecuali jika permasalahan memang
sudah spesifik.
d. Sending questioner and analisis responded for
first round. Peneliti mengirimkan kuesioner
pada putaran pertama kepada responden,
selanjutnya meriview instrumen dan
menganalisis jawaban instrumen yang telah
dikembalikan. Analisis dilakukan dengan
mengelompokkan jawaban yang serupa.
Berdasarkan hasil analisis, peneliti merevisi
instrument.
e. Development of subsequent Questionaires.
Kuesioner hasil review pada putaran pertama
dikembangkan dan diperbaiki, dilanjutkan pada
putaran kedua, dan ketiga. Setiap hasil revisi,
kuesioner dikirimkan kembali kepada
responden. Jika mengalami kesulitan dan
keraguan dalam merangkum, peneliti dapat
meminta klarifikasi kepada responden. Dalam
teknik delphi biasanya digunakan hingga 3-5
putaran, tergantung dari keluasan dan
kekomplekan permasalahan sampai dengan
tercapainya konsensus.
f. Organization of Group Meetings. Peneliti
mengundang responden untuk melakukan
diskusi panel, untuk klarifikasi atas jawaban
yang telah diberikan. Disinilah argumentasi dan
debat bisa terjadi untuk mencapai konsensus
dalam memberikan jawaban tentang rancangan
suatu produk atau intrumen penelitian. Dengan
face-to-face contact, peneliti dapat
menanyakan secara rinci mengenai respon
yang telah diberikan. Keputusan akhir tentang
hasil jajak pendapat dikatakan baik apabila
dicapai minimal 70% konsensus.
g. Prepare final report. Peneliti perlu membuat
laporan tentang persiapan, proses, dan hasil
yang dicapai dalam Teknik Delphi. Hasil Teknik
Delphi perlu diujicoba di lapangan dengan
responden yang akan memakai model atau
produk dalam jumlah yang jauh lebih besar.
www.infokursus.net/download/0604091354Metode_Penel_Pengemb_Pembelajaran.pdf
Daftar Rujukan
Ary, D; Jacobs, L.C. dan Razax’ich, A., 1979, Introduction to
Research in Education, New York: Holt, Rinehart and
Winston.
Creswell J.W., 1994, Research Design: Qualitative and
Quantitative Approaches, Sage Publication, Thousen Oaks.
Wierma W., 1995, Research Methods in Education: An
Introduction, Allyn and Bacon, Boston.
Borg, W.R. and Gall, M.D. (1983). Educational Research: An
Introduction. London: Longman, Inc.
Dick, W. And Carey, L. (1996). The Systematic Design of
Instruction. New York: Harper Collin Publishers.
Kempp, J.E. (1977). Instructional Design. Belmont: Fearon Tilman
Publishers, Inc.
Leasing, C.B., Polloock, J., and Reigeluth, C.M. (1992).
Instructional Design Strategies and Tactic. New Jersey:
Educational Technology Publishers
Sutopo, A.H. (2003). Multimedia Interaktif dengan Flash. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Langganan:
Komentar (Atom)